Sabtu, 17 Januari 2009

Filsafat Eropa Menurut Khalifatul Masih IV a.t.b.a.

ALIRAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM

Al-Asy’ariyyah
Aliran pemikiran al-Asy’ariyyah
dimulai oleh Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari (260 - 330 H) yang telah memungkinkan aliran ini menonjol di antara berbagai aliran pemikiran yang ada. Masa itu adalah era ketika beberapa cendekiawan Muslim sedang bergegas ke arah rasionalisme, sehingga dirasa perlu adanya reaksi untuk menghadapi kecenderungan tersebut. (Dapat dikatakan) sebagai tokoh utama gerakan reaksioner ini adalah sosok terkenal Imam Ismail Al-Asy’ari. Ironisnya, guru Al-Asy’ari sendiri yaitu Al-Jubba`i (wafat 303 H) adalah salah seorang cendekiawan rasionalis pada waktu itu. Imam Al-Asy’ari tidak saja mengemukakan ketidak-setujuannya atas pandangan kaum rasionalis, tetapi secara meyakinkan mengungkapkan kekurangan dari sistem apa pun yang hanya semata bersandar pada rasionalitas untuk melihat kebenaran.

Bagi kalangan Al-Asy’ariyyah, rasionalitas tidak akan menuntun manusia kepada suatu pengetahuan tertentu atau pun kebenaran hakiki, bahkan mereka menganggapnya sebagai hal yang akan membawa kepada keraguan dan kontradiksi. Kaum Al-Asy’ariyyah menekankan bahwa pengetahuan hakiki hanya berkaitan dengan pengenalan dan pengakuan atas wahyu sebagai satu-satunya sarana guna mencapai kebenaran hakiki, karena yang menjadi sumber dari kebenaran itu adalah Tuhan sendiri. Dengan demikian, menurut mereka satu-satunya cara untuk menggapai kebenaran hakiki adalah melalui wahyu Ilahi.
Dalam reaksi mereka terhadap rasionalitas, beberapa ulama Al-Asy’ariyyah bahkan sudah terlalu jauh menolak penjelasan apa pun dari ayat-ayat Al-Quran yang didukung oleh logika manusia. [ANWAR 2]. Mereka malah sudah terlalu jauh menolak sama sekali penafsiran figurative dari Al-Quran. Imam Ashari sendiri adalah seorang pemikir logis yang terampil. Argumentasi yang diajukannya untuk menentang penggunaan rasionalitas menariknya adalah karena juga didasarkan pada rasionalitas itu sendiri. Salah satu debat publiknya yang terkenal adalah saat melawan gurunya sendiri, Allamah Al-Jubbai, dimana hal itu akan lebih menjelaskan sikapnya.[AGUS]
‘Bagaimana pandangan engkau tentang keadaan tiga orang bersaudara (pada saat di akhirat nanti): Seorang mukmin, seorang kafir dan yang satu anak kecil?’ tanya Ashari kepada Al-Jubbai.
‘Si mukmin akan masuk surga, yang kafir akan masuk neraka, sedangkan anak kecil itu tidak akan ke surga atau pun neraka, karena belum ada amalannya yang cukup untuk mendapatkan ganjaran atau pun hukuman’ jawab Al-Jubbai.
Asy’ari berkomentar: ‘(Jika demikian) si anak kecil dapat mendebat Tuhan dengan mengatakan “Jika Engkau memberi aku waktu yang cukup (hingga aku dewasa), pasti aku bisa melakukan amal yang baik. Karena itu mengapa aku diluputkan dari nikmat surga?”
Jubbai menukas: ‘Tuhan akan menjawab, “Karena Aku tahu bahwa jika engkau dewasa nanti akan melakukan amal yang buruk.[AGUS]. Karena itu kematian lebih awal ini sebenarnya merupakan rahmat karena engkau telah diselamatkan dari neraka.”
Ashari menjawab: ‘Pada saat itu si kafir akan menyela dan menyalahkan Tuhan karena tidak memberikan kematian kepadanya pada usia yang sama dengan anak kecil itu agar ia bisa selamat dari melakukan amal-amal buruk.’
Patut dicatat bahwasanya ketika menentang rasionalitas, nyatanya Asy’ari sendiri menggunakan rasionalitas sebagai senjata. Karena itu tidak benar adanya jika dikatakan bahwa ia sepenuhnya menentang rasionalitas. Para pengikut aliran pemikiran ini seperti Imam Ghazali
1 dan Imam Razi2 bersandar penuh pada argumentasi rasional dalam memecahkan berbagai persoalan dan dalam mengokohkan keimanan mereka.Secara berangsur pemahaman Sufi tentang hubungan mahluk dengan penciptanya mulai dipengaruhi oleh filsafat yang sebenarnya asing bagi Islam. Sebagai contoh, pengaruh dari filsafat Yunani klasik bisa ditelusuri pada beberapa sekte Sufi. Pandangan pantheisme bangsa Yunani diadopsi dalam bentuk yang dimodifikasi oleh beberapa sekte Sufi, meski ditentang keras oleh yang lainnya. Mereka yang menentang kecenderungan pantheisme menekankan bahwa ada garis pemisah yang tegas yang memisahkan Tuhan dengan makhluk ciptaa-Nya.(AGUS). Menurut mereka, meskipun mahluk membawa tanda cap dari sang Pencipta dan merupakan refleksi-Nya, tetapi hal ini tidak bisa dirancukan dengan identitas Wujud-Nya. Sebaliknya, beberapa faksi lain menganggap karena seluruh alam ini menjadi manifestasi dari Tuhan maka tidak ada perbedaan yang tegas di antara Pencipta dengan mahluk (yang diciptakan). Bagi mereka penciptaan tidak bisa dipisahkan dari Tuhan karena sifat-sifat-Nya terdapat secara naluriah pada segalanya yang telah Dia ciptakan. Tidak ada garis pemisah yang bisa ditarik. Karena itu Tuhan adalah alam semesta dan alam semesta ini adalah Tuhan. Namun Dia memiliki niat-Nya sendiri yang berkerja sebagai fitrat naluriah dalam benda-benda.
((1))Pada tinjauan pertama, alam semesta ini kelihatannya bersifat pantheistik: Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Tetapi ada perbedaan yang signifikan yang perlu dicatat. Pandangan pantheistik tentang Tuhan tidak mengenal adanya Wujud eksternal yang merupakan Pencipta yang Sadar, Wujud yang berkomunikasi dengan manusia melalui wahyu, yang memperhatikan cobaan, musibah dan kesukaan yang mereka alami serta yang memberikan bimbingan kepada mereka. ((2)) Kalangan sufi dalam agama Islam mempunyai pandangan yang kontradiktif terhadap pantheistik klasik dengan tetap beriman pada identitas Tuhan yang independen yang, meskipun tercermin dari ciptaan-Nya, adalah tetap merupakan Sang Pencipta.
((3))Kaum Sufi ini jarang terlibat dalam perdebatan dengan kata-kata yang keras dan garang. Umumnya mereka melaksanakan hidup bersahaja dalam iman seraya menghormati dan bersikap toleran terhadap pandangan yang berbeda dengan mereka. ((4))Berbeda dengan faham ortodoks yang terus menerus menjadi semakin dengki. Karena itu banyak sekali sekte Sufi yang harus mengalami kekerasan yang ekstrim dari ulama ortodoks. Sering sekali muncul gerakan perlawanan dari mereka sehingga setiap sekte Sufi harus mengalami berbagai keaniayaan yang serupa dari waktu ke waktu. Kaum Sufi yang menganut konsep ketuhanan yang pantheistik adalah yang menjadi bulan-bulanan angkara murka ulama ortodoks tersebut. ((5))Kadang kala mereka divonis hukuman mati dan dibunuh secara brutal. Pernyataan-pernyataan ikrar mereka yang menyatakan bahwa filsafat pantheistik itu tidak mengkompromikan (merusak-peny.) keesaan dan kebebasan sang Maha Pencipta tidak diterima dan mereka tetap saja dituduh telah mendakwakan diri bersatu dengan Tuhan. Oleh sebab itu ulama ortodoks sering melakukan tindak kejahatan dengan menganiaya mereka.
((6))Kasus yang menyangkut seorang Sufi termashur, Mansur Al-Hallaj
3, merupakan contoh bagaimana kaum Sufi diperlakukan karena mereka didakwa mengaku sebagai Tuhan. Ia dijatuhi hukuman gantung karena dalam keadaan ekstase meneriakkan kata ‘Anal-Haq, Anal-Haq (Akulah Yang Maha Benar, akulah Yang Maha Benar)’. Kaum ortodoks menganggap ia mengaku sebagai Tuhan sendiri, padahal ia menyatakan ungkapan tersebut dalam kondisi ekstase spiritual, yaitu keadaan penafian diri secara total. ((7))Apa yang dimaksudkan olehnya ialah bahwa dirinya tidak berarti apa-apa, yang ada hanyalah Dia (Tuhan). Mansur Al-Hallaj menaiki tiang gantungan dengan kepala tegak, sama sekali tidak gentar akan kematian yang menghadang. Tidak juga teriakannya tenggelam oleh caci maki yang dilontarkan orang kepadanya. Teriakannya tetap lantang membahana ‘Anal-Haq, Anal-Haq’ sampai nyawanya kembali ke sumber kehidupannya nundi atas sana.
((8))Sekte Sufi lainnya lahir karena gagasan tentang apakah alam eksternal ini merupakan suatu kenyataan atau semata-mata hanya suatu cerapan fikiran belaka. Masalah ini sudah sejak zaman purba dipertanya­kan orang, bahkan oleh Plato dan Aristoteles. Pertanyaan itu belum terjawab pada masa dahulu dan tidak juga oleh kaum Sufi tersebut. Sekarang pun tetap saja masih menjadi bahan perdebatan di antara para filsuf. ((9))Tidak juga ada filsuf kontemporer yang bisa mengabaikannya karena dimensi ruang dan waktu tidak mungkin divisualisasikan tanpa peran otak manusia. Imajinasi seorang yang gila sama nyata baginya seperti hasil observasi seorang ilmuwan tentang alam dalam geraknya. Ditinjau dari sudut pandang demikian, kelihatannya masalah ini tidak mungkin bisa dipecahkan.(AGUS.)
((10))Kesan atau impresi tiap orang tentang alam eksternal berbeda satu sama lain. Tetapi persepsi yang sama tentang dunia yang mendasar di sekeliling kita serta pemahaman sifat-sifatnya umumnya diakui oleh sebagian besar pengamat. Sebagai contoh, kebanyakan orang akan sependapat tentang definisi suatu benda sederhana seperti kursi atau meja. ((11))Namun banyak juga benda-benda umum dimana tidak setiap orang memandangnya secara sama. Sebagai contoh, warna berbagai benda mungkin terlihat berbeda bagi orang-orang yang mempunyai kelainan pada kemampuan penglihatannya. Begitu pula, indera yang kita miliki keadaannya tidak sama pada setiap manusia. Indera penciuman tiap orang berbeda, begitu juga indera untuk merasakan panas dan dingin yang tidak sama bagi setiap orang. Apalagi jika dipertimbangkan bahwa dari perubahan sudut pandang pun akan menghasilkan persepsi visual yang berbeda pada pengamat yang sama. Persepsi tentang suatu hal yang sama oleh pengamat yang sama dapat berubah jika ia beralih posisi, yaitu dengan melihatnya dari sudut lain. Dan jika ditambahkan adanya (faktor) perbedaan suasana hati dan kondisi kesehatan masing-masing orang, maka problemnya menjadi berlipat ganda. ((G12)) Tidak ada kebenaran obyektif yang sepenuhnya sejalan dengan kebenaran subyektif yang digali orang dari dalam otaknya sendiri. Singkat kata, impresi subyektif tidak selalu berkaitan dengan dunia luar dengan cara yang persis sama. Hal ini menurut pandangan beberapa filsuf menafikan kemungkinan bahwa kita dapat mencapai kepastian yang bersifat mutlak tentang segala hal yang dilihatnya.
((G13))Aspek ketidak-pastian dan ketidak-handalan impresi (pencerapan fikiran) seperti yang diungkapkan di atas, telah menyebabkan lahirnya sekte Sufi lain yang sepenuhnya menyangkal eksistensi eksternal dari tiap benda dan menyatakan bahwa kebenaran hakiki hanyalah pandangan subyektif masing-masing orang. ((G14))Mereka yang paling ekstrim di antara kelompok itu bahkan menyangkal segala bentuk fisik eksternal termasuk dirinya sendiri. Dengan demikian maka suatu usaha yang bermula pada upaya untuk memperjelas detil dan persepsi tentang realitas luar malah berakhir dengan kerancuan total. Namun ada daya tarik magis dalam kegilaan tersebut yang terkadang bahkan memukau ahli logika dan ilmuwan yang paling bijak di zaman mereka.
((G15)) Sebuah kisah menarik diceritakan tentang seorang pimpinan terkenal dari sekte Sufi (golongan ekstrim) ini. Ia dipanggil menghadap seorang raja guna berdebat dengan beberapa cendekiawan terkemuka di masa itu. Namun disamping terpesona, semua peserta menjadi kecewa karena hasil perdebatan ternyata jauh bertolak belakang dengan yang mereka harapkan. Setelah saling tukar beberapa argumentasi dan sanggahan, para cendekiawan tersebut besar tersudut dan tergagap-gagap mencari kata untuk melawan pembicaraan sang Sufi. Tidak ada seorang pun yang mampu mengimbangi kepiawaian logika sang Sufi. Dalam keadaan seperti, sang raja mendapat gagasan cemerlang seraya memerintahkan pawang gajah untuk membawa gajahnya yang paling beringas ke halaman istana. Gajah ini kebetulan terjangkit kegilaan yang tidak kurang dari sang Sufi tersebut. Yang membedakan hanya tentang realitas luar yang tidak eksis dalam fikiran sang Sufi(Agus). Adapun gajah itu sendiri keinginannya hanya menghancurkan semua realitas luar yang dilihatnya. Lalu dari satu arah sang Sufi didorong masuk ke halaman istana dan dari arah lainnya gajah tersebut dilepaskan. Sang Sufi tanpa banyak bicara langsung melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya.
((G16))Melihat hal itu, sang raja berteriak dari balkon istana, ‘Jangan lari dari gajah bayangan itu, wahai Sufi. Gajah itu hanyalah khayalan dalam fikiranmu saja!’
‘Siapa yang lari?’ jawab sang Sufi. ‘Itu hanyalah khayalan dalam fikiran engkau saja.’
Berakhirlah kesulitan sang Sufi tetapi debatnya sendiri tidak. Sampai sekarang pun (perdebatan tentang persoalan tersebut) masih terus ada.
P
emikiran Islam aliran Spanyol
((F1))Kita telah membahas kontroversi berkenaan dengan superioritas dari kebenaran yang terungkap yaitu kebenaran vis-a-vis (terlihat di mata). Beberapa pemikir mengunggulkan wahyu di atas logika, sedangkan yang lainnya berfikir sebaliknya. Ibnu Rushd (yang di Barat dikenal sebagai Averroes), salah seorang pemikir Muslim terbesar sepanjang masa, mengemukakan proposal yang menyatakan bahwa pandangan di atas sebenarnya menyatakan realitas paralel dan harus diperlakukan secara terpisah. Kebenaran yang diwahyukan harus diterima sebagaimana adanya, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasar observasi dan eksprimen juga diterima bagaimana adanya. Baginya, orang tidak harus mencari korelasi di antara keduanya, dan juga tidak perlu mencari kontradiksi atau upaya guna memecahkannya.
((F3))Saat itu adalah masa dimana ilmuwan Muslim sedang mengalami kemajuan pesat di Spanyol dalam bidang ilmiah. Mereka melakukan hal itu tanpa menjadi gentar meski ada fatwa aliran lama yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan inovasi (Ilhad). Kemungkinan Ibnu Rushd beranggapan bahwa sebaiknya tidak tenggelam dalam kontroversi demikian agar tidak mengganggu kemajuan ilmu pengetahuan.
((4))Yang rupanya ia hindari adalah bahaya terdapatnya kontradiksi di antara agama dengan pengetahuan. Sebagai seorang muminin Islam yang sejati dan seorang ilmuwan yang mengabdikan diri pada kebenaran tanpa prasangka, kebijakannya itu telah melambari pengamalan yang baik dari agama maupun pengetahuan di Spanyol untuk jangka waktu yang lama. Bahaya kontradiksi di antara kebenaran yang diwahyukan dengan kebenaran menurut observasi tidak pernah secara langsung mengemuka. Karena itu masalah preferensi tidak pernah menonjol secara serius. Berkat kearifan dari Ibnu Rushd, kebijakan ‘tanpa konflik’ ini menjadi tetap dominan selama berabad-abad di Spanyol.
((5))Jika kita telaah ulang masalah yang mungkin timbul akibat kontroversi dari apa yang terjadi kemudian, kami bisa mengatakan secara pasti bahwa zaman tersebut belum cukup dewasa menghadapi masalah tersebut. Posibilitas adanya persepsi yang cacat atau partial atau bahkan salah paham sepenuhnya dari fakta yang kelihatan jelas tidak bisa diabaikan.
((F7))Di Spanyol, mengenai masalah demikian rupanya tidak pernah ada dialog di antara ilmuwan dengan ulama agama. Tidak ada forum yang bisa dianggap sebagai media alih pengetahuan di antara kedua kelompok tersebut, juga tidak pernah ada debat tentang kelebihan komparatif dari keyakinan mereka masing-masing. Akibatnya maka tidak ada Galileo di Spanyol yang dipaksa harus memilih di antara nyawa dengan kebenaran. Para ilmuwan bahkan tidak pernah berusaha menjelaskan kepada para ulama agama untuk menyebut sebuah pacul sebagai pacul kapan terlihat sebagai pacul. Mereka juga tidak merasa perlu membuktikan kepada para ulama bahwa penafsirannya tentang Al-Quran itu keliru karena bertentangan dengan fakta ilmiah yang dikenal saat itu.
Akibat dari itu semua ialah berkembangnya dua gerakan secara paralel yang tambah menjauh satu sama lain dengan berjalannya waktu. Terjadilah dimana pengetahuan Islami mengambil arah yang sama sekali berlainan dari arus filsafat dan ilmiah, dan jalan mereka tidak pernah bersilang. Persis keadaannya dengan dua sungai yang mengalir secara paralel tanpa mengganggu satu sama lain.
((F8))Hasil dari keadaan demikian ialah menonjolnya Andalusia (kerajaan Muslim di Spanyol) yang telah meninggalkan semua negeri-negeri Islam lainnya di bidang riset ilmiah. Yang juga mendukung hal ini ialah Spanyol menikmati periode relatif aman untuk jangka waktu yang panjang. Spanyol aman dari serangan penakluk seperti Ghengis Khan atau Hulagu Khan. Periode sejarah Islam di Andalusia ini bisa dianggap sebagai zaman keemasan rasionalisme.
Dengan terusirnya umat Muslim dari Andalusia maka berakhirlah masa kejayaan dominasi Muslim. Semua ikatan yang berbau Islam dengan rakyat Spanyol lalu diputuskan. Jika ada yang mengatakan dunia mengalami retrogresi tragis di bidang intelektual dan kemajuan ilmiah maka hal itulah yang terjadi di Andalusia. Betapa tragisnya retrogresi demikian. ((F10))Dengan dibukanya gerbang di selatan Andalusia bagi eksodus umat Muslim, keluar juga bersama mereka kebijakan, pengetahuan, kejujuran, kebenaran dan nur cahaya dalam berbagai rona, yang tidak akan kembali lagi selama berabad-abad. Hanya saja nur tersebut tidak membanjir keluar searah perjalanan dari eks-patriat Muslim tersebut. Spanyol kembali tenggelam ke masa kegelapan seperti keadaan pada era pra-Islam.
((F10a))Tetapi dunia Islam lainnya tidak juga menjadi lebih baik. Kalau di sini kegelapannya muncul dari dalam diri mereka sendiri. Kegelapan itu berbentuk prasangka keagamaan, kefanatikan, kecupatan berfikir, kesombongan, egoisme dan kecemburuan yang merebak seperti api neraka. Nyala itu marak laiknya pilar asap yang menyebar dan melebar jauh dan menutupi sinar nur dari langit. Negeri yang berada di dalamnya diselimuti bayangan kegelapan progresif yang berkembang dan menebal dengan berjalannya waktu.
((F11))Tentang penghuni dari daratan Eropa bagian utara, kisahnya malah berbeda sama sekali. Apa yang merupakan kerugian bagi bangsa Spanyol ternyata menjadi manfaat bagi mereka. Dan betapa besarnya keuntungan mereka itu. Ratu Isabella dan raja Ferdinand dari Spanyol yang mengusir umat Muslim, tak lama kemudian di bawah pengaruh dari kependetaan Kristen yang fanatik dan despotik, lalu mengalihkan kemurkaan mereka terhadap umat Yahudi. ((F12))Dengan dibukanya gerbang selatan untuk menguras keluar umat Muslim, gerbang utara dibuka lebar bagi eksodus besar-besaran umat Yahudi. Di antara mereka terdapat orang-orang berpengetahuan tinggi, cendekiawan akbar, ilmuwan dan intelektual yang memiliki kelebihan dalam berbagai profesi mereka. Mereka ini telah menguasai berbagai keterampilan selama tujuh abad pemerintahan Muslim yang baik hati. ((F13))Mereka telah mencapai keunggulan di berbagai bidang okupasi manusia seperti industri, perdagangan, riset ilmiah, arsitektur, ilmu pahat, ilmu bedah dan lain-lainnya. Sebuah skema penganiayaan yang diatur rapih telah membuang semua umat Yahudi keluar dari Spanyol, dan itu dilakukan setelah melucuti semua kekayaan mereka.
Mereka inilah yang telah membawa obor pengetahuan dari Andalusia ke selatan Perancis dan negara-negara setelahnya. Filsafat Aristoteles dan Plato mulai berkembang di Eropa melalui filsuf Muslim dari Spanyol. Cara pengobatan kedokteran Avicenna (Ibnu Sina), tabib akbar yang pernah dikenal dunia pada masanya, serta kebijaksanaan Averroes (Ibnu Rushd) yang telah menggabung dalam dirinya filsafat keagamaan dan ilmiah sekuler, mulai merebak seperti sinar fajar di horison Eropa. Berkat dari eskodus umat Yahudi itu, karya mereka tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa oleh para cendekiawan. Nyatanya adalah mereka itu yang telah meletakkan dasar-dasar era pencerahan baru di Eropa yang disebut sebagai Renaissance.

M
usibah dunia Muslim
Menengok((1)) kembali era pasca Spanyol, kita akan melihat pemandangan kelam yang mengandung tragedi menggayuti seluruh dunia Islam. Sejak saat itu negeri-negeri Muslim di luar Spanyol kehilangan minat atas pengetahuan sekuler dan melepaskan kegiatan pencarian, investigasi dan riset yang sebelumnya mereka promosikan dan kembangkan sampai tingkat yang demikian luhur.
((2))Kecenderungan tidak menguntungkan tersebut merupakan suatu hal yang kontra-produktif tidak saja di bidang ilmu pengetahuan tetapi juga di bidang keagamaan. Umat Muslim kemudian terpecah-belah dalam berbagai skisma dan faksi. Akidah luhur mengenai Ketauhidan Ilahi ikut terpengaruh oleh kecenderungan bunuh diri yang destruktif tersebut. ((3))Muncul retakan-retakan pada imaji Tuhan sendiri yang ditafsirkan demikian berbeda seolah-olah mereka sedang membicarakan dewa-dewa lain dan bukan sang Maha Esa. Hasrat mencari pengetahuan sendiri tidak pupus, tetapi preferensinya yang telah berubah.
((4))Mereka masih tetap memperdebatkan tentang benar dan salah dengan semangat seperti sebelumnya tetapi subyek diskusinya sudah berubah. Mereka masih tetap saja terbenam dalam pertanyaan-pertanyaan yang sama yang selama berabad-abad telah menggelitik mereka. Bukannya membahas masalah-masalah pokok yang berkaitan dengan praktek ibadah yang mendasar, jurisprudensi mereka disibukkan dengan hal-hal sepele seperti halal tidaknya makan daging burung gagak. Pernah terjadi keributan massal di antara para pengikut yang saling bertentangan tentang masalah ini. ((6))Polemik yang terjadi malah tambah rumit dan berbelit-belit. Sungguh hebat keahlian intelek mereka yang telah menciptakan gunung dari sarang semut, keahlian yang sebenarnya mencerminkan ketiadaan fikiran waras. Sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu semata-mata intelektualisme tanpa nalar.
((7))Sebagian dari masalah-masalah yang dianggap ‘amat penting’ yang telah mengganggu fikiran mereka malah juga telah mendidihkan darah mereka. Salah satu di antara permasalahan sepele yang mereka bahas adalah tentang anjing yang jatuh ke dalam sumur. Berapa ember banyaknya air yang harus dibuang sampai airnya dianggap bersih dan halal untuk berwudhu, merupakan pertanyaan teramat penting yang telah menyita perhatian ulama-ulama besar di masa itu. ((8))Apalagi jika yang jatuh ke dalam sumur mereka itu adalah Mullah yang telah dicap bid’ah oleh kelompok ulama lain, maka pertanyaannya menjadi bertambah rumit dan serius. Berapa ember air yang harus dibuang telah menjadi rumus matematika yang kompleks. Mungkin ada juga yang menyarankan untuk menutup sumur dengan tanah sekalian mengubur Mullah bersangkutan. Demikian itulah keadaan di masa tersebut dan kisah-kisah berdasar realita yang menggambarkan ketidak-toleransian menggila mereka.
((9))Meski mereka terdengar ganjil, namun tidak bisa dikatakan bahwa mereka berdusta. Jurisprudensi di masa itu tentunya telah kacau-balau. Mereka terlibat dalam perdebatan yang sama sekali tidak ada artinya sehingga ibadah yang paling dimuliakan umat Muslim seperti Shalat pun menjadi bahan tertawaan.
((10))Umat Muslim selalu megucapkan bacaan tertentu saat duduk setelah rakaat kedua dari Shalat mereka. Waktu membaca itu ada yang mengangkat jari telunjuk mereka dan ada juga yang tidak. Tetapi para ahli hukum di masa itu terpecah pendapatnya mengenai hal ini. Mereka cenderung ingin menghukum jari yang telah mengusik fikiran mereka. Yang mengatakan harus mengangkat jari, ingin menghukum mereka yang tidak mengangkatnya, sedangkan ulama yang menyatakan tidak harus mengangkat jari ingin pula menghukum mereka yang
mengangkatnya. Menurut keputusan di antara mereka, diangkat atau tidak diangkat, jari itu jadinya harus dipotong. Bisa saja mereka berbeda pendapat tentang hal-hal lainnya tetapi tidak tentang hal ini. Karena itu pergi ke mesjid yang salah bisa membawa bahaya tersendiri. Masuk mesjid tentunya mudah tetapi keluarnya menjadi masalah. Kemungkinan mereka harus keluar mesjid dengan jari minus satu dari lima yang telah dikaruniakan Allah s.w.t.
((11))Contoh ketiga dari masalah sepele adalah yang berkaitan dengan pengucapan ‘Amin’ yang diucapkan di akhir pembacaan Fatihah oleh imam shalat. Masalah ‘pokoknya’ adalah apakah harus diucapkan dengan suara keras atau tidak. Bisa jadi mereka yang membaca Amin dengan suara keras akan dipukuli beramai-ramai jika kebetulan ia berada di mesjid yang menganggapnya sebagai kejahatan serius. Amin yang berbisik di antara pembaca keras akan sama provokatifnya.
((12))Yang paling menonjol dalam perbedaan akidah yang kemudian mempunyai dimensi mengerikan adalah hal yang berkaitan tentang apakah Al-Quran itu merupakan mahluk (ciptaan) atau bukan. Penganut dari pandangan yang berseberangan ini sama berpendapat bahwa siapa yang tidak sama pandangannya boleh dihukum mati. Namun semuanya tergantung juga pada pembagi keadilan yang akbar - yaitu faktor kebetulan. Jika sang raja kebetulan berada di pihak para eternalis, maka mereka yang menganut pandangan lain tidak saja dibunuh, bahkan dibakar hidup-hidup di dalam rumahnya. Jika faktor kebetulan sedang berpihak pada yang lain maka yang teraniaya akan menjadi penganiaya. Bahkan mereka yang telah mati dan dikubur sekali pun tidak lepas dari penghukuman. Mereka digali lagi dari kuburnya untuk digantung di depan umum agar menjadi pelajaran bagi yang hidup.
((13))Tetapi sebenarnya pelajaran apa yang bisa diperoleh? Sisi mana dari papan jungkit itu yang aman tetap saja merupakan pertanyaan tak berjawab. Bagi mereka yang tenggelam dalam kegalauan sepele dengan keseriusan demikian rupa, telah menjadikan kehidupan mereka di bumi sebagai neraka. Adapun ancaman neraka yang dilontarkan musuh-musuh mereka tidak harus menunggu sampai mereka sudah mati.
Abad-abad kegelapan dari zaman pertengahan ini telah menebarkan bayangan maut melebar dan jauh sehingga dunia Islam yang muncul dari kegelapan saat matahari Islam bersinar di gurun Arabia, kembali terbenam dalam palungan kebodohan. Visi Islam mulai berkedip meredup dan berubah ronanya seperti bintang di kejauhan yang dilihat di malam gelap dengan perubahan sudut berdiri dan menggeser sudut pandang. Imaji Islam kehilangan kecemerlangan dan kemantapannya.
((14))Dua sarana pokok untuk pencerahan yang bisa merubah kegelapan kebodohan menjadi pengetahuan kelihatannya seperti telah tertutup sama sekali. Tidak ada lagi kejernihan dan integritas dari kashaf dan juga tidak ada harapan lagi akan wahyu dari langit. Bagi umat Muslim kelihatannya kedua jendela itu telah tertutup. Sungguh suatu akhir yang amat tragis.
Hanya saja beberapa abad kemudian, matahari pengetahuan sekuler mulai terbit lagi, tetapi sekali ini dari Barat. Pencetus sinar dari Timur sekarang menghadap ke Barat mengharapkan secercah sinar yang sebenarnya justru mereka yang telah memberikannya ke Barat beberapa abad yang silam.

FILSAFAT EROPA


FILSAFAT EROPA




K
etika((A1)) matahari pencerahan sekuler terbenam di Andalusia, wajahnya yang cemerlang terbit di ufuk Perancis dan tersenyum kepada benua Eropa selebihnya. Matahari ini menerangi dataran benua dari selatan hingga ke utara, dan dari timur hingga ke barat. Hari cerah yang membawa sinar pengetahuan telah datang dan kelak akan mendominasi Eropa selama berabad-abad mendatang. Abad Renaissance pun dimulai.
((A2))Namun hanya sedikit sekali orang Eropa sekarang ini yang menyadari betapa besar hutang mereka kepada kaum Muslim Spanyol bagi fajar pencerahan yang disebut Renaissance itu. Banyak dari para filsuf, ahli matematika, ilmuwan, ahli perbintangan dan kedokteran yang terkenal dari Andalusia hanya menjadi kenangan terhapus bagi Eropa, terbenam di kuburan pemikiran yang dilupakan.
((A3))Dengan fajar Renaissance, sejalan dengan pengusiran kegelapan, nalar dan rasionalitas menggantikan tempat keimanan buta di daerah-daerah yang sekian lama telah dikuasainya dengan garang. Memelihara keseimbangan antara filsafat sekuler di satu sisi dengan keimanan dan kepercayaan di sisi lain, bukanlah tugas yang mudah. Bukan tantangan yang mudah bagi suatu masyarakat yang dikuasai pendeta di zaman itu untuk mempertahankan keimanan mereka terhadap serbuan filsafat dengan nalar dan rasionalitas. Mereka mewarisi citra Kristiani yang disebabkan pengaruh ajaran Paulus telah menyerpih menjadi dogma-dogma mitologi. Yang diwariskan itu bukan lagi Nur samawi yang telah mencerahkan Yesus Kristus.
((A4))Bahkan sebelum masa Renaissance, beberapa intelektual Eropa telah mencoba memelihara keseimbangan antara nalar dan keimanan. E. J. Scotus (Johannes Scotus Eriugenna) di abad kesembilan Masehi telah memberikan contoh agung tentang bagaimana memelihara kedamaian di antara keimanan dan nalar atau akal budi. Ditegaskan olehnya bahwa kebenaran tidak mungkin dicapai hanya dengan nalar saja karena daya nalar dan keimanan mempunyai peran yang dimainkan bersama. Ia mengemukakan anggapan bahwa pada awalnya kepercayaan agama didasarkan pada nalar. ((A5)) ((A5))Keyakinan manusia tidak mungkin muncul hanya atas dasar dugaan-dugaan semata. Harus ada dasar logika untuk membangun keyakinan. ((A6))Apakah hal ini dilakukan secara sadar atau tidak, bagi setiap [] [43] keyakinan yang tumbuh harus ada dasar logikanya. Singkat kata, Scotus beranggapan bahwa keimanan hakiki tidak boleh disamakan dengan dongeng belaka. Keimanan itu harus diyakini memiliki dasar rasional yang solid. Ia berasumsi bahwa di awal saat mulai berakar di fikiran manusia, tidak mungkin keimanan terjadi tanpa adanya nalar dan logika yang mendukung. ((A7))Namun dengan berjalannya waktu maka mata rantai itu telah terhapus dan tidak bisa lagi dilihat. Sejak saat itu keimanan jadi mengawang di udara tanpa ada penyangga akal budi sebagai penopangnya. Hanya saja keteguhan dan kekokohan keimanan (agama-peny.) yang telah bertahan sekian lama menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin bisa mencapai tingkat keyakinan demikian tinggi tanpa adanya dasar nalar atau logika sama sekali.
((A8))Sebagai konklusi Scotus menyarankan agar validitas keimanan seseorang diperiksa dari waktu ke waktu berdasarkan petunjuk rasionalitas. Jika terdapat pertentangan maka yang harus diikuti adalah nalar. Dengan demikian nalar sedikit lebih unggul dibanding keimanan.
Ilustrasi terbaik dari sikap ini ialah perlakuan dari Sir Isaac Newton (1642 - 1727) terhadap akidah Trinitas. Sepanjang ia tidak secara sadar dan secara ilmiah menelaah ulang pandangan keagamaan yang diwarisinya, ia tetap saja menjadi penganut yang baik dari akidah tersebut. Namun di kemudian hari ketika ia mencoba menguji keimanannya dengan nalar dan rasionalitas, maka ia tidak mempunyai pilihan lain selain menolak akidah Trinitas karena menurutnya akidah tersebut telah gagal dalam ujicoba dengan logika. Dengan demikian ia telah menjadi korban paling besar prasangka gereja Kristen yang dikorbankan di altar salib.
((A9))Sebagai tanda penghargaan atas kegeniusan Newton, ia telah ditunjuk sebagai anggota kehormatan (fellowship) dari “College of the Holy and Undivided Trinity” dari Universitas Cambridge, jabatan yang dipegangnya selama bertahun-tahun. Namun pada tahun 1675 ia diberi pilihan apakah harus meninggalkan jabatannya dan tetap berpegang pada keyakinannya yang telah berubah itu atau ia harus memilih mengkompromikan keyakinannya dan menyatakan mengikuti kebiasaan lama Kristiani melalui sumpah pentahbisan.@ [44]@@
Pembangkangannya untuk mengikuti akidah Trinitas yang berlaku umum mengakibatkan ia kehilangan jabatan dan penghasilan sebesar £60 setahun, suatu jumlah yang amat besar di masa itu. Ia dicopot dari kedudukan sebagai anggota terhormat dan dari jabatannya di universitas atas tuduhan bid’ah. Tuduhan bid’ah yang dilekatkan pada dirinya tersebut hanya karena Newton menganggap penyembahan Yesus sebagai penyembahan berhala, yang menurut pendapatnya adalah suatu dosa besar. R. S. Westfall menulis tentang Newton sebagai berikut:
((A10)) ‘Ia mengakui Yesus Kristus sebagai mediasi samawi di antara Tuhan dengan umat manusia, yang tunduk dan posisinya berada di bawah sang Bapak yang telah menciptakan dirinya.’1
‘Keyakinan mulai berakar di dirinya bahwa suatu penipuan yang massive yang dimulai pada abad keempat dan kelima telah melencengkan warisan dari gereja awal. Yang terutama dipalsukan adalah Kitab Injil dimana menurut Newton hal itu dilakukan untuk menopang akidah trinitas. Sulit mengatakan kapan keyakinan tersebut muncul dalam dirinya. Naskah-naskah asli menunjukkan keraguan dirinya sejak awal. Bukannya membungkam keraguan tersebut, ia malah membiarkannya menguasai dirinya.’2
((A11))Dengan demikian sebenarnya jelas bahwa keimanannya pada Ketauhidan Ilahi dan penolakan terhadap akidah Trinitas sudah didasarkan pada telaahnya yang tidak berpihak pada keimanan Kristiani. Banyak catatan pinggir yang ditulis tangan pada buku Injil miliknya pribadi seperti antara lain:
‘Karena itu sang Bapak adalah Tuhan dari sang Putra (ketika sang Putra dianggap sebagai) Tuhan’3
Westfall menyimpulkan keseluruhannya sebagai:
‘ . . . sebagai ungkapan awal dari telaah theologi Newton adalah keraguannya tentang status Kristus dan akidah Trinitas’3

M
asa ((B1))Renaissance telah menghidupkan kembali persoalan tentang iman versus rasionalitas yang telah mengusik fikiran manusia sepanjang sejarah dalam ruang lingkup yang lebih luas. Bagi Rene Descartes (1596 - 1650), menjadi tugasnya lah untuk tetap mengibarkan tinggi-tinggi bendera keimanan. Yang ia permasalahkan bukan lagi keimanan Kristiani dibanding akal budi, malah langsung ke masalah tentang eksistensi Tuhan di masa maraknya pengembaraan fikiran manusia di dunia filsafat sedang marak.
((B2))Sebagai seorang pemikir yang jernih wawasannya, ia tidak saja percaya akan Tuhan tetapi juga menjadi filsuf pertama di antara sesamanya yang tanpa tedeng aling-aling telah mengangkat masalah akal budi yang dapat membawa manusia kepada Tuhan. Beruntung baginya karena ia menolak terseret ke dalam perdebatan tentang rasionalitas akidah Trinitas. Apa yang telah dibuktikannya adalah eksistensi dari wujud Yang Maha Agung. @((B3))@@Mungkin penolakannya untuk terseret dalam masalah dari dogma Kristen yang sedang berlaku itulah yang telah menghilangkan kesempatan baginya untuk ditempatkan di jajaran orang-orang terhormat di antara golongan intelektual beriman di masanya. J. Gutman menjelaskan situasi ini di dalam bukunya yang berjudul Philosophy4. Dalam buku itu, Descartes dikemukakan sebagai seorang beragama yang dianggap percaya kepada wahyu, padahal ia memang sebenarnya demikian itu. Perlakuan atas dirinya ini hanya karena ia secara rasional mengabaikan kenyataan yang berlaku dalam agama Kristen.
((B5))Sayangnya pemberontakan terhadap konsep Ketuhanan seperti itu tidak terlalu mengganggu fikiran para pendeta Kristen dibanding misalnya suatu penghujatan terhadap agama Kristen secara terbuka. Adalah suatu tragedi besar bahwa seorang ahli matematika dan filsuf setingkat Descartes tidak memperolah penghormatan yang menjadi haknya. Patut diingat bahwa ia itu tidak saja seorang filsuf teoritis, tetapi juga seorang ahli geometri yang telah mengangkat karya-karya Pythagoras (580 - 500 sM) ke posisi yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Karyanya di bidang geometri yang merupakan karya perintis patut dikenang dengan kepala tunduk sebagai penghormatan atas kebesaran dirinya.
((B6))Tanda kebesaran dirinya itu tidak saja karena ia adalah orang pertama yang memperkenalkan tren argumentasi matematis ke dalam filsafat. Konsepnya tentang kebenaran dan kemutlakan bermula dari perjalanannya mengungkap kesadaran jati diri. Uji kebenaran yang dikemukakan olehnya berkaitan dengan impresi pertama seseorang setelah mendengar atau melihat sesuatu. ((B7))Ia menekankan bahwa segala sesuatu yang tidak bisa memenuhi kriteria kebenaran dengan sendirinya patut diragukan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang dianggap benar tanpa perlu adanya argumentasi dialektis bisa diterima sebagai kebenaran yang nyata. Dengan menggunakan logika ini pada kesadaran jati diri, muncullah ungkapannya tentang argumentasi: ‘karena aku berfikir maka aku ada - dan aku menerima pengakuan sederhana ini tanpa harus didukung oleh deduksi logika apa pun - dengan demikian jelas bahwa aku ada.’
((B8))Ungkapan tersebut menjadi tolok ukur bukti kebenaran yang pertama dan utama. Sebuah kalimat sederhana telah diperkenalkan olehnya sehubungan dengan hal ini adalah Cogito, ergo sum5 yang berarti ‘Aku berfikir, maka aku ada.’ Kebenaran kedua yang diakuinya setelah yang pertama itu adalah tentang eksistensi Tuhan. Ia menghitung secara matematis bahwa konsep tentang eksistensi itu saja sudah cukup sebagai bukti tentang Keberadaan-Nya sebagaimana halnya jumlah derajat dalam suatu segitiga sama dengan jumlah derajat dari dua sudut siku-siku.
Apakah bukti filsafat dari eksistensi Tuhan tersebut bisa diterima atau tidak oleh generasi para filsuf yang datang kemudian, tetapi sekurang-kurangnya mereka telah amat dipengaruhi oleh konsep pemikirannya. Karena itu pada generasi para pemikir berikutnya mulailah logika digunakan secara bebas untuk mendukung atau menentang eksistensi Tuhan. Materialisme dialektikal juga terlahir dari perkembangan kecenderungan yang sama.
((B9))Alur pemikiran demikian berlanjut sampai abad ke tujuhbelas ketika John Locke, Berkeley dan Hume kemudian menetapkan garis demarkasi bagi fenomena dan akal budi (wujud luar) sebagai suatu hal yang terpisah dari masalah keimanan dan kepercayaan. Meski menganut pandangan seperti itu John Locke tidak sepenuhnya mengkaliskan validitas iman dan keyakinan, melainkan menyerahkan hal itu kepada mereka untuk beriman kepada apa pun yang mereka pilih. Adalah generasi filsuf Eropa berikutnya yang kemudian menyangkal eksistensi Tuhan berdasar logika dimana Rousseau dan Nietzsche paling mengemuka di antara mereka.
N
ietzsche((B10)) dengan gaya dramatisnya menyatakan bahwa Tuhan sudah mati. Adapun Rousseau mengajukan suatu sintesa dari suatu agama baru sebagai pengganti atas agama-agama yang diwahyukan. Ia menekankan perlunya suatu agama yang didasarkan pada telaah atas fitrat dan pengalaman manusia. Ia mengusulkan bahwa fikiran manusia sudah sewajarnya menyusun sendiri ketentuan hidup sebagai warganegara atau peraturan menjalani hidup. ((C1))Rousseau rupanya menjadi salah satu pemula dari para filsuf Eropa yang memberontak secara terbuka terhadap filsafat yang berkaitan dengan keimanan kepada Tuhan. Masa itu merupakan era dimana agama secara langsung dan terbuka dipengaruhi oleh gerakan kaum rasionalis rasionalitas.
((C2))Generasi filsuf ini diikuti oleh penganut aliran Utilitarian seperti Mill dan Sidgwick. Pada dasarnya mereka mengakui kemerdekaan tentang pilihan kemaslahatan. Apa pun yang bermanfaat bagi seseorang, maka orang itu harus dibebaskan dari segala rintangan untuk mencapainya. Namun jika terjadi perselisihan antara egoisme (mementingkan diri sendiri) dengan altruisme (mementingkan orang lain) maka mereka menganjurkan penggunaan akal budi sebagai arbitrasi di antara keduanya.
((C3))Berarti bahwa pada saat sedang mengejar kesenangan dan manusia dihadapkan pada pilihan di antara mementingkan diri secara ekstrim dengan mengorbankan kepentingan diri bagi orang lain, akal budi diharapkan menjadi penengah di antara keduanya. Benar-benar suatu filsafat yang ngawur [verbose] tanpa ada bobotnya sama sekali. Mereka yang cenderung mencari kesenangan diri tidak memerlukan nasihat dari Bentham, Mill, Sidgwick dan lain-lain agar menghentikan laku mereka di perbatasan laku berlebihan dan menahan diri melompat ke area egoisme total. Bagi mereka itu pilihan di antara egoisme dan altruisme tidak pernah menjadi suatu hal yang harus dipermasalahkan. ((c4))Siapa yang akan membutuhkan akal budi sebagai penengah di bidang yang berkaitan dengan nafsu sensualnya? Seseorang yang terbiasa mengikuti kesenangan nafsu dan hasrat jasmaniah tidak akan butuh nasihat apapun. Ia mengikuti jalannya secara sadar dan tahu betul pro dan kontra jalan tersebut.
G
enerasi((C5)) Utilitarian diikuti oleh suatu angkatan filsuf yang meninggalkan jejak yang mendalam pada filsafat Eropa. Locke, Berkeley dan Hume yang dikenal sebagai kelompok Empirisis (yang menekankan kepada pengalaman) berada di muka dari gerakan tersebut. Banyak generasi filsuf di masa setelah mereka yang dipengaruhi oleh cara berfikir mereka. Filsafat mereka bisa disimpulkan dalam suatu pernyataan sederhana: ‘kita hanya perlu meyakini konklusi yang ditarik berdasarkan observasi eksperimental yang bisa ditunjukkan.’ ((C6))

K
etika((A1)) matahari pencerahan sekuler terbenam di Andalusia, wajahnya yang cemerlang terbit di ufuk Perancis dan tersenyum kepada benua Eropa selebihnya. Matahari ini menerangi seluruh dataran benua dari selatan sampai ke utara. Hari cerah yang membawa sinar pengetahuan telah datang dan akan mendominasi Eropa selama berabad-abad mendatang. Muncul kemudian era yang disebut sebagai zaman Renaissance.
((A2))Namun hanya sedikit sekali orang Eropa sekarang ini yang menyadari betapa besar hutang mereka kepada umat Muslim Spanyol bagi fajar pencerahan yang disebut Renaissance tersebut. Banyak dari para filsuf, ahli matematika, ilmuwan, ahli perbintangan dan kedokteran yang terkenal dari Andalusia hanya menjakenangan terhapus bagi Eropa, terbenam di kuburan yang dilupakan.
((A3))Dengan fajar dari Renaissance, sejalan dengan pengusiran kegelapan, nalar dan rasionalitas menggantikan tempat keimanan buta di daerah-daerah yang sekian lama telah dikuasainya dengan garang. Memelihara keseimbangan di antara filsafat sekuler di satu sisi dengan keimanan dan kepercayaan di sisi lain, bukanlah tugas yang mudah. Bukan tantangan gampang bagi suatu masyarakat yang dikuasai pendeta di zaman itu untuk mempertahankan keimanan mereka terhadap serbuan filsafat dari nalar dan rasionalitas. Mereka ini adalah pewaris dari citra Kristiani yang karena pengaruh ajaran Paulus telah menyerpih menjadi dogma-dogma mithologi. Yang diwarisi tersebut bukan lagi Nur samawi yang telah mencerahkan Yesus Kristus.
((A4))Bahkan sebelum masa Renaissance, beberapa intelektual Eropa telah mencoba memelihara keseimbangan di antara nalar dengan keimanan. E. J. Scotus (Johannes Scotus Eriugenna) di abad kesembilan Masehi telah memberikan contoh agung tentang memelihara kedamaian di antara keimanan dan daya nalar. Ditegaskan olehnya bahwa kebenaran tidak mungkin dicapai hanya dengan nalar saja karena daya nalar dan keimanan mempunyai peran yang dimainkan bersama. Ia mengemukakan anggapan bahwa pada awalnya kepercayaan agama didasarkan pada nalar. ((A5))Keyakinan manusia tidak mungkin muncul hanya atas dasar dugaan-dugaan semata. Harus ada dasar logika untuk membangun keyakinan. ((A6))Apakah hal ini dilakukan secara sadar atau tidak, bagi setiap keyakinan yang tumbuh harus ada dasar logikanya. Singkat kata, Scotus beranggapan bahwa keimanan hakiki tidak boleh dipersamakan dengan dongeng belaka. Keimanan itu harus diyakini memiliki dasar rasional yang solid. Ia berasumsi bahwa di awal saat keimanan mulai berakar di fikiran manusia, tidak mungkin hal itu terjadi tanpa adanya nalar dan logika yang mendukung. ((A7))Namun dengan berjalannya waktu maka mata rantai itu telah memupus dan tidak bisa lagi dilihat. Sejak saat tersebut maka keimanan jadinya melayang di udara tanpa ada penyangga akal budi sebagai penopangnya. Hanya saja keteguhan dan keuletan keimanan yang telah bertahan sekian lama menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin bisa mencapai tingkat keyakinan demikian tinggi tanpa adanya dasar nalar atau logika sama sekali.
((A8))Sebagai konklusi Scotus menyarankan agar validitas keimanan seseorang diperiksa dari waktu ke waktu berdasarkan petunjuk rasionalitas. Jika terdapat pertentangan maka yang harus diikuti adalah nalar. Dengan demikian nalar sedikit lebih unggul dibanding keimanan.
Ilustrasi terbaik dari sikap ini ialah perlakuan dari Sir Isaac Newton (1642 - 1727) terhadap akidah Trinitas. Sepanjang ia tidak secara sadar dan secara ilmiah menelaah ulang pandangan keagamaan yang diwarisinya, ia tetap saja menjadi penganut yang baik dari akidah tersebut. Namun di kemudian hari ketika ia mencoba menguji keimanannya dengan nalar dan rasionalitas, maka ia tidak mempunyai pilihan lain selain menolak akidah Trinitas karena menurutnya akidah tersebut telah gagal dalam ujicoba dengan logika. Dengan demikian ia telah menjadi korban prasangka gereja Kristen yang dikorbankan di altar salib.
((A9))Sebagai tanda penghargaan atas kegeniusan Newton, ia telah ditunjuk sebagai anggota kehormatan (fellowship) dari “College of the Holy and Undivided Trinity” dari Universitas Cambridge, jabatan yang dipegangnya selama bertahun-tahun. Namun pada tahun 1675 ia diberikan pilihan apakah harus meninggalkan jabatannya atau tetap pada keyakinannya. Ia harus memilih mengkompromikan keyakinannya dan menyatakan mengikuti kebiasaan lama Kristiani melalui sumpah pentahbisan.
Pembangkangannya untuk mengikuti akidah Trinitas yang berlaku umum mengakibatkan ia kehilangan jabatan dan penghasilan sebesar £60 setahun, suatu jumlah yang amat besar di masa itu. Ia dicopot dari kedudukan sebagai anggota terhormat dan dari jabatannya di universitas atas tuduhan bid’ah. Tuduhan bid’ah yang dilekatkan pada dirinya tersebut hanya karena Newton menganggap penyembahan Yesus sebagai penyembahan berhala, yang menurut pendapatnya adalah suatu dosa besar. R. S. Westfall menulis tentang Newton sebagai berikut:
((A10)) ‘Ia mengakui Yesus Kristus sebagai mediasi samawi di antara Tuhan dengan umat manusia, yang tunduk dan posisinya berada di bawah sang Bapak yang telah menciptakan dirinya.’1
‘Keyakinan mulai berakar di dirinya bahwa suatu penipuan yang massive yang dimulai pada abad keempat dan kelima telah melencengkan warisan dari gereja awal. Yang terutama dipalsukan adalah Kitab Injil dimana menurut Newton hal itu dilakukan untuk menopang akidah trinitas. Sulit mengatakan kapan keyakinan tersebut muncul dalam dirinya. Naskah-naskah asli menunjukkan keraguan dirinya sejak awal. Bukannya membungkam keraguan tersebut, ia malah membiarkannya menguasai dirinya.’2
((A11))Dengan demikian sebenarnya jelas bahwa keimanannya pada Ketauhidan Ilahi dan penolakan terhadap akidah Trinitas sudah didasarkan pada telaahnya yang tidak berpihak pada keimanan Kristiani. Banyak catatan pinggir yang ditulis tangan pada buku Injil miliknya pribadi seperti antara lain:
‘Karena itu sang Bapak adalah Tuhan dari sang Putra (ketika sang Putra dianggap sebagai) Tuhan’3
Westfall menyimpulkan keseluruhannya sebagai:
‘ . . . sebagai ungkapan awal dari telaah theologi Newton adalah keraguannya tentang status Kristus dan akidah Trinitas’3

M
asa ((B1))Renaissance telah menghidupkan kembali pertanyaan dalam fikiran manusia yang telah mengusik sepanjang sejarah tentang keimanan dibanding rasionalitas dalam ruang lingkup yang lebih luas. Menjadi tugas dari Rene Descartes (1596 - 1650) untuk tetap mengibarkan tinggi bendera keimanan. Yang ia permasalahkan bukan lagi keimanan Kristiani dibanding akal budi, malah langsung ke masalah tentang eksistensi Tuhan di masa pengembaraan fikiran manusia di dunia filsafat sedang marak.
((B2))Sebagai seorang pemikir yang jernih wawasannya, ia tidak saja percaya akan Tuhan tetapi juga menjadi filsuf pertama di antara sesamanya yang telah mengangkat masalah nalar yang membawa manusia kepada Tuhan. Beruntung baginya karena ia menolak terseret ke dalam perdebatan tentang rasionalitas akidah Trinitas. Apa yang telah dibuktikannya adalah eksistensi dari Wujud yang Maha Agung. ((B3))Mungkin penolakannya untuk terseret dalam masalah dari dogma Kristen yang sedang berlaku itulah yang telah menghilangkan kesempatan baginya untuk ditempatkan di jajaran orang-orang terhormat di antara intelektual beriman di masanya. J. Gutman menjelaskan situasi ini di dalam bukunya yang berjudul Philosophy4. Dalam buku itu, Descartes dikemukakan sebagai seorang beragama yang dianggap percaya kepada wahyu, padahal ia memang sebenarnya demikian itu. Perlakuan atas dirinya ini hanya karena ia secara rasional mengabaikan kenyataan yang berlaku dalam agama Kristen.
((B5))Sayangnya pemberontakan terhadap konsep Ketuhanan seperti itu tidak terlalu mengganggu fikiran para pendeta Kristen dibanding misalnya suatu penghujatan terhadap agama Kristen secara terbuka. Adalah suatu tragedi besar bahwa seorang ahli matematika dan filsuf setingkat Descartes tidak memperolah penghormatan yang menjadi haknya. Patut diingat bahwa ia itu tidak saja seorang filsuf teoritis, tetapi juga seorang geometris yang telah mengangkat karya-karya Pythagoras (580 - 500 sM) ke posisi yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Karyanya di bidang geometri yang merupakan karya perintis patut dikenang dengan kepala tunduk sebagai penghormatan atas kebesaran dirinya.
((B6))Tanda kebesaran dirinya itu tidak saja karena ia adalah orang pertama yang memperkenalkan trend argumentasi matematis ke dalam filsafat. Konsepnya tentang kebenaran dan kemutlakan bermula dari perjalanannya mengungkap kesadaran jati diri. Uji kebenaran yang dikemukakan olehnya berkaitan dengan impresi pertama seseorang setelah mendengar atau melihat sesuatu. ((B7))Ia menekankan bahwa segala sesuatu yang tidak bisa memenuhi kriteria kebenaran dengan sendirinya patut diragukan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang dianggap benar tanpa perlu adanya argumentasi dialektik bisa diterima sebagai kebenaran yang nyata. Menggunakan logika ini pada kesadaran jati diri, lalu muncul ungkapannya tentang argumentasi: ‘karena aku berfikir maka aku ada - dan aku menerima pengakuan sederhana ini tanpa harus didukung oleh deduksi logika apa pun - dengan demikian jelas bahwa aku ada.’
((B8))Ungkapan tersebut menjadi tolok ukur bukti kebenaran yang pertama dan utama. Sebuah kalimat sederhana telah diperkenalkan olehnya yaitu Cogito, ergo sum5 yang berarti ‘Aku berfikir, karena itu aku ada.’ Kebenaran kedua yang diakuinya setelah yang pertama itu adalah tentang eksistensi Tuhan. Ia menghitung secara matematis bahwa konsep tentang eksistensi itu saja sudah cukup sebagai bukti tentang Keberadaan-Nya sebagaimana halnya jumlah derajat dalam suatu segitiga sama dengan jumlah derajat dari dua sudut siku-siku.
Apakah bukti filsafat dari eksistensi Tuhan tersebut bisa diterima atau tidak oleh generasi para filsuf yang datang kemudian, tetapi sekurang-kurangnya mereka telah amat dipengaruhi oleh konsep pemikirannya. Karena itu pada generasi para pemikir berikutnya mulailah logika digunakan secara bebas untuk mendukung atau menentang eksistensi Tuhan. Materialisme Dialektik juga terlahir dari perkembangan kecenderungan yang sama.
((B9))Alur pemikiran demikian berlanjut sampai abad ke tujuhbelas ketika John Locke, Berkeley dan Hume kemudian menetapkan garis demarkasi dari fenomena dan akal budi sebagai suatu hal yang terpisah dari masalah keimanan dan kepercayaan. Meski menganut pandangan seperti itu tetapi John Locke tidak sepenuhnya mengkaliskan validitas keimanan dan kepercayaan, ia menyerahkan hal itu kepada mereka untuk beriman kepada apa pun yang mereka pilih. Adalah generasi filsuf Eropa berikutnya yang kemudian menyangkal eksistensi Tuhan berdasar logika dimana Rousseau dan Nietzsche paling mengemuka di antara mereka.
N
ietzsche((B10)) dengan gaya dramatisnya menyatakan kalau Tuhan sudah mati. Adapun Rousseau mengajukan suatu sintesa dari suatu agama baru sebagai pengganti dari agama-agama yang diwahyukan. Ia menekankan perlunya suatu agama yang didasarkan pada telaah atas fitrat dan pengalaman manusia. Ia mengusulkan bahwa fikiran manusia sudah sewajarnya menyusun sendiri ketentuan hidup sebagai warganegara atau peraturan menjalani hidup. ((C1))Rousseau rupanya menjadi salah satu pemula dari para filsuf Eropa yang memberontak secara terbuka terhadap filsafat yang berkaitan dengan keimanan kepada Tuhan. Masa itu merupakan era dimana agama secara langsung dan terbuka dipengaruhi oleh gerakan rasionalitas.
((C2))Generasi filsuf ini diikuti oleh penganut aliran Utilitarian seperti Mill dan Sidgwick. Pada dasarnya mereka mengakui kemerdekaan tentang pilihan kemaslahatan. Apa pun yang bermanfaat bagi seseorang, maka orang itu harus dibebaskan dari segala rintangan untuk mencapainya. Namun jika terjadi perselisihan di antara egoisme (mementingkan diri sendiri) dengan altruisme (mementingkan orang lain) maka mereka menganjurkan penggunaan akal budi sebagai arbitrasi di antara keduanya.
((C3))Berarti bahwa pada saat sedang mengejar kesenangan dan manusia dihadapkan pada pilihan di antara mementingkan diri secara ekstrim dengan mengorbankan kepentingan diri bagi orang lain, akal budi diharapkan menjadi pemutus di antara keduanya. Benar-benar suatu filsafat yang ngawur tanpa ada bobotnya sama sekali. Mereka yang cenderung mencari kesenangan diri tidak memerlukan nasihat dari Bentham, Mill, Sidgwick dan lain-lain agar menghentikan laku mereka di perbatasan laku berlebihan dan menahan diri melompat ke area egoisme total. Bagi mereka itu pilihan di antara egoisme dan altruisme tidak pernah menjadi suatu hal yang harus dipermasalahkan. ((C4))Siapa yang membutuhkan arbitrasi dari akal budi di bidang yang berkaitan dengan nafsu sensualnya? Seseorang yang terbiasa mengikuti kesenangan nafsu jasmaniah tidak butuh nasihat apa-apa. Ia mengikuti jalannya secara sadar dan tahu betul pro dan kontra jalan tersebut.
G
((C5))enerasi Utilitarian diikuti oleh suatu angkatan filsuf yang meninggalkan jejak yang mendalam pada filsafat Eropa. Locke, Berkeley dan Hume yang dikenal sebagai kelompok Empirisis (yang menekankan kepada pengalaman) berada di muka dari gerakan tersebut. Banyak generasi ahli filsafat di masa setelah mereka yang dipengaruhi oleh cara fikir mereka itu. Filsafat mereka bisa disimpulkan dalam suatu pernyataan sederhana: ‘orang hanya perlu meyakini konklusi yang ditarik berdasarkan observasi eksperimental yang bisa ditunjukkan.’ ((C6)) Mereka meyakini bahwa hanya akal budi dan tanda-tanda yang jelas saja yang bisa diterima yaitu ide-ide yang bisa dikaji ulang secara ilmiah dengan konsistensi yang tetap. Tidak ada lagi definisi tentang ilmu pengetahuan yang lebih gamblang dari pada itu.
((C7))Hume diikuti oleh Immanuel Kant (1724 - 1804) yang amat terpesona dan dipengaruhi oleh filsafat realistis Hume. Karena itu realisme Kant bersumber juga pada empirisisme Hume. Meski ia itu seorang agnostik namun ia cukup bijak untuk memahami perlunya moralitas atau akhlak. Mungkin ia bisa dianggap sebagai pelopor dari pandangan yang menyatakan bahwa moralitas harus dideduksi dari akal budi saja. Ia membagi realitas menjadi realitas fenomenal
4 dan realitas noumenal5. Ia beranggapan bahwa telaah ilmiah tidak bisa lebih jauh dari pengamatan fenomena saja. Karena itu ia menafikan eksistensi Tuhan bisa dibuktikan melalui sarana telaah fenomena. Sistemnya itu dikenal orang dengan nama idealisme transendental.
((C8))Filsafat demikian lalu melahirkan pandangan Hegel tentang idealisme mutlak. Banyak istilah-istilah baru dilontarkan pada masa perkembangan pandangan filsafatnya seperti positivisme logikal, eksistensialisme dan obyektivisme. Namun semuanya itu tidak ada yang merupakan tambahan bab dramatis pada filsafat dari Plato dan Aristoteles yang tetap saja teratas sebagai penghulu filsafat sepanjang masa. ((C8a))Bahkan klise-klise cantik dari Materialisme Dialektik dan sosialisme ilmiah hanya merupakan nama lain dari pandangan-pandangan yang kita temui dalam karya Aristoteles. ((C8b))Patut diingat bahwa para filsuf Eropa juga berhutang banyak kepada pendahulu mereka para Muslim dari Andalusia dan Baghdad, disamping kepada para pemuka mereka dari Yunani. ((C8c))Saat ini adalah periode ketika pandangan Hegel tentang idealisme absolut dianggap sebagai panutan utama. Namun kebanyakan filsuf Eropa kurang menyadari bahwa pandangan tersebut tidak lebih hanya merupakan perpanjangan dari idealisme Plato. ((C9))Jika kita pahami pandangan Hegel secara sempurna, menurut yang bersangkutan, subyektivisme tidak bisa dipisahkan dari realitas di luar. Berarti ia itu tidak menyangkal realitas obyektif meski menekankan supremasi dari fikiran.
((C10))Dalam aliran pemikiran Islam, pandangan obyektivis dari para Sufi berbeda konotasinya sama sekali. Mereka mengagungkan subyektivisme sedemikian rupa yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh para filsuf Eropa. Kaum Sufi ini lebih cocok disebut sebagai illusionis.

S
epanjang ((D1))menyangkut wahyu sebagai pengantar kepada pengetahuan, tidak ada pembahasan mengenai hal ini dalam karya para filsuf Eropa dari generasi mana pun. Di antara mereka yang mengimani eksistensi Tuhan seperti Descartes, ia pun tetap beranggapan bahwa akal budi harus ditempatkan di muka sebelum keimanan. Ia sendiri beriman tentang adanya Tuhan karena logikanya mendukung kepercayaannya tersebut sehingga karena itu tidak ada kontradiksi dalam dirinya. ((D2))Voltaire dan Thomas Paine beranggapan bahwa dalam perkembangan kebudayaan manusia, lebih banyak peran akal budi dibanding keimanan. Dalam filsafat metafisika, bentuk abstrak dari eksistensi di luar dunia material telah sering menjadi subyek diskusi, tetapi masalah keberadaan wahyu sendiri tidak pernah ditelaah secara serius.
((D3))Terlepas dari perhatian filsafat di masa itu, dalam membandingkan nilai komparatif dari keimanan dibanding rasionalitas, mereka sama sekali bungkam berkaitan dengan wahyu sebagai sarana yang telah menuntun manusia kepada kebenaran dan ilmu pengetahuan. Paling banter perhatian mereka hanya berputar di sekitar eksistensi Tuhan, tetapi itu pun hanya secara filsafat. ((D4))Tidak pernah ada suatu kegiatan pencarian guna menemukan bukti-bukti di alam semesta yang bisa menjadi bukti tentang eksistensi Dia. Validitas wahyu sebagai turun dari langit tidak pernah dibahas secara serius. Sebagai perbandingan, upaya manusia modern mencari jejak wujud dari luar angkasa malah masih jauh lebih serius. Upaya-upaya demikian malah telah dilembagakan dan dibiayai oleh negara-negara adidaya.
((D5))Dengan mendekatnya kita ke periode zaman modern dari sejak masa Bentham, Mill dan Sidgwick, kita akan melihat bertambah besarnya pertumpuan orang kepada rasionalitas, sedangkan hal-hal yang menyangkut keimanan bergeser ke posisi yang kurang penting. Yang dikorbankan pada penekanan rasionalitas tersebut adalah kepercayaan kepada Tuhan. Demikianlah rasionalitas mulai mendominasi secara perlahan dan gradual, laiknya fajar di kutub utara yang sesekali diwarnai oleh kilatan aurora.
((D6))Para rasionalis memberikan preferensi kepada akal budi di atas semua cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kebenaran. Di antara para rasionalis tersebut ada yang percaya kepada agama Kristen dan ada juga yang tidak. Justru yang tidak inilah yang kemudian mengungguli semua. Selama periode rasionalisme, Gereja terpaksa harus mempertahankan ajaran Kristiani dengan segala macam argumentasi logika yang bisa dikerahkan. Hanya saja hal ini menjadi kesalahan strategis karena mereka telah terpikat memasuki medan perang nalar dan rasionalitas.
((D7))Salah seorang theist (penganut agama) yang paling menonjol dalam periode ini adalah Kierkegaard, Jaspers dan Marcel. Dari antara mereka itu adalah Kierkegaard yang pertama mengingatkan Gereja agar jangan melakukan bunuh diri dengan memasuki arena debat logika di antara keimanan dan nalar. Menyangkut upaya Kierkegaard untuk menyelamatkan keimanan dari serbuan akal budi, Coppleston menulis dalam buku ‘Contemporary Philosophy’:
((D8)) ‘Bagi Kierkegaard, justru prosedur tersebut merupakan pengkhianatan tidak jujur atas agama Kristen. Dialektik Hegel malah merupakan musuh di dalam selimut, dan bukan urusan dari para pengarang dan pendeta Kristen untuk mengencerkan kepekatan agama Kristen hanya untuk menyenangkan publik umum yang terpelajar. Akidah Inkarnasi bagi umat Yahudi merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani merupakan ketololan, karena memang itulah substansinya. Akidah tersebut tidak saja berada di atas nalar tetapi juga menjijikkan bagi nalar, malah dianggap sebagai suatu Paradoksal di atas segalanya, dan hanya yang beriman saja yang bisa menerimanya dengan lapang dada. Substitusi nalar dengan keimanan akan merupakan canang kematian bagi agama Kristen.’6
((D9))Apa yang tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Kierkegaard ialah keadaan sebaliknya juga akan mengakibatkan hal yang sama. Pandangan yang bersangkutan seolah-olah menyatakan bahwa agama Kristen sama sekali kosong dari akal budi dan rasionalitas. Agama ini bisa dianut sepanjang orang tetap menarik diri secara degil ke dalam kerapas penolakan logika. Saat sang penyu menjulurkan lehernya keluar maka kepalanya akan terpenggal oleh rasionalitas yang selalu menunggu kesempatan demikian. Namun Kierkegaard berkeyakinan bahwa ia bisa tetap mempertahankan agama Kristen dan akal-budinya secara bersamaan. Mungkin ia bisa tetap memiliki kue tetapi juga memakannya pada saat bersamaan!
Berkeley dan Hegel secara konsisten tetap bersiteguh bahwa logika harus diberikan preferensi di atas pengalaman keinderaan. Bagi mereka itu yang namanya Tuhan hanyalah merupakan suatu deskripsi ciptaan manusia untuk mengisi kekosongan akibat kesenjangan logika. ((D10))Perdebatan mengenai hal ini terus berlangsung di antara para filsuf Eropa yang beriman dan yang tidak. Perdebatan berlangsung terus menerus sampai apinya mati sendiri. Yang tersisa hanyalah abu keimanan dalam wadah agnostika dan atheisme.
((D11))Bagi para filsuf Yahudi yang beriman, strategi mereka tidak terlalu mudah dihancurkan. Mereka meyakini sifat historikal dari agama mereka. Kejayaan masa lalu dari agama Yahudi di atas lawan-lawannya cukup bagi mereka untuk tetap memelihara bara api keimanan mereka. Memperdebatkan masalah logika dengan keimanan dianggap tidak relevan sama sekali.
((D12))Di antara mereka yang atheis, nama-nama seperti Nietzsche, Sartre, Merleu-Ponty, Camus dan Marx merupakan suatu kategori tersendiri. Tidak ada dari mereka yang meyakini generalisasi. Karena itu tidak mungkin bagi mereka untuk menguniversalkan subyektivitas. Pengalaman subyektif tiap orang memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa diberbagikan dengan orang lain.
((D13))Kami merasa perlu untuk membahas tersendiri apa yang dikenal sebagai Marxisme. Betapa pun kita tidak sependapat dengan filsafat ini, tetap harus diakui bahwa doktrin ini telah memperoleh tempat yang permanen yang akan selalu mendapat perlakuan hormat oleh sejumlah besar penduduk dunia.

Di antara para filsuf atheis dari abad kesembilanbelas , Karl Marx (1818 - 1883) perlu mendapat perhatian secara khusus. Baginya penyangkalan Tuhan bukan merupakan suatu hal yang bersifat kebetulan, tetapi merupakan komponen yang integral dalam filsafatnya yang menganggap agama sebagai suatu hal yang tidak selaras sama sekali. ((D14))Menurut pandangannya, manusia adalah unsur-unsur yang saling berinteraksi satu sama lain menurut kaidah sosio-ekonomis yang mengatur mereka. Manusia harus dibebaskan dari campur tangan agama yang dianggap hanya akan mengacaukan pencapaian tujuan hidup mereka. Bagi Marx, wahyu dan ilham merupakan kosa kata yang berada di luar wilayah pemikiran filsafat.
((D15))Berikut adalah Friedrich Nietzsche dengan kepribadian yang mendominasi. Penanya yang seperti pedang menikam Tuhan sebagai korban utama, sampai kemudian ia menyatakan bahwa Dia telah mati (menurut anggapannya). Sebenarnya ia tidak mengenal Tuhan sama sekali selain Tuhan dalam akidah Kristiani, dan wujud inilah yang ditikam oleh pedang logikanya. ((D16))Dengan demikian Kierkegaard ternyata benar ketika ia memperingatkan agar para pendeta menahan diri berkaitan dengan misteri samawi akidah Trinitas, daripada mengundang masalah dengan mencoba mempertahankannya dengan instrumen logika.
((D17))Faktanya, sebagian besar dari filsuf Eropa di masa itu terdorong menyangkal keberadaan Tuhan justru karena ulah Gereja Kristen yang telah memistifikasi imaji Tuhan menjadi suatu bentuk yang absurd. Di antara filsuf atheis lainnya, yang paling menarik adalah Jean-Paul Sartre (1905 - 1980) yang juga paling suka bermain kata. Ia sangat mahir menciptakan slogan dengan isi yang bernas. Mengenai ketidak-berdayaan manusia di alam kemerdekaannya menuju alam yang tidak ber-Tuhan, ia menyatakan:
‘. . . manusia terhukum untuk menjadi merdeka’7
((D18))Dengan kalimat tersebut yang dimaksud bahwa tanggungjawab untuk memilih yang dipikul setiap manusia adalah suatu tantangan yang amat sulit untuk bisa dipenuhi. Tidak ada siapa pun yang akan membantu atau membimbing langkahnya dalam menapaki dunia liar eksistensinya. ((D19))Saat mengkomentari episode kehidupan Nabi Ibrahim a.s. Sartre menjelaskan keberadaan para malaikat sebagai suatu fenomena batiniah. Baginya apa yang disebut sebagai wahyu Ilahi yang dibawa para malaikat kepada Nabi Ibrahim a.s. tidak lebih dari rintihan batin beliau sendiri.
((D20))Meski penjelasan Sartre keliru menurut pandangan kita, masih patut kita kagumi luapan keputus-asaan dan dendamnya yang menggebu-gebu itu. Sebenarnya hal itu lebih tepat diterapkan pada kondisi Sartre sendiri yang mungkin merasakan kepedihan dan kejengkelan akibat kehampaan filsafatnya yang tanpa Tuhan itu. ((D21))Wahyu sebagai kenestapaan batin sesungguhnya merupakan pernyataan menyolok dari sudut pandang seorang atheis - kalau memang atheis mengaku punya batin. Bernard Shaw dekat pendapatnya dengan Sartre, tetapi tidak begitu dekat, ketika mendefinisikan wahyu sebagai suara batin – ungkapan yang cerdik dari seorng dramawan yang tidak memiliki kedalaman dan kekuatan refleksi seperti Sartre!((D22))Sartre tidak mampu melihat perbedaan antara ilham dengan wahyu, dan memang istilah-istilah itu tidak ada dalam filsafatnya. Menurut pandangannya apa yang ada ialah kenyerian batin bak lidah api yang sewaktu-waktu menjilat akibat luapan keputus-asaan. Tidak ada yang namanya wahyu turun dari langit, yang ada hanyalah luapan dari kedalaman frustrasi perasaan manusia.
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 -1831) adalah seorang filsuf agnostik lainnya yang minat penyangkalannya tidak terlalu menyolok. Filsafat yang dianutnya tidak langsung berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan. Salah satu kontribusinya yang menonjol adalah upayanya menjembatani konsep subyektivitas dan obyektivitas.
((D23))Adalah Hegel yang pertama kali mengemukakan konflik dialektik antara konsep pemikiran satu generasi dengan generasi berikutnya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai teori Hegel tentang pergumulan dialektik di antara tesis dan anti-tesis. Ia berpegang pada sifat pertentangan di antara ide-ide. Berarti setiap ide yang bertentangan satu dengan lain tetapi tidak saling kontradiktif, akan selalu terbelenggu dalam pergumulan dialektik dalam mencapai keunggulan. ((D24))Hal ini akan melahirkan ide yang lebih unggul sebagai hasil dari proses dialektik terdahulu. Hal tersebut pada gilirannya akan memunculkan anti-tesis baru sebagai hasil dari tesis sebelumnya. Demikianlah prosesnya berlanjut terus sampai kemudian tercapai kestabilan tesis yang menggambarkan pemahaman positif dan abadi dari realitas alam yang obyektif.
((D25))Ia menggunakan metode tersebut untuk menetapkan peran logika dalam mencapai ilmu pengetahuan. Hanya saja metode dialektik guna mencari kebenaran ini hanya berlaku dalam suatu sistem yang bersifat faktual dan tidak abstrak. Hasil akhir dari pergumulan ide tersebut adalah apa yang disebutnya sebagai ide (ruh) absolut. ((D26))Inilah yang dimaksud Hegel sebagai realitas terakhir kebenaran universal. Baginya sejarah tidak lebih dari gerakan fikiran, yaitu integrasi dari tesis dengan anti-tesis untuk menjadi sintesis. Dalam kata-kata dari Lenin, Hegel meyakini bahwa:
‘Kehidupan memberikan otak. Alam ini direfleksikan dalam otak manusia. Dengan menelaah dan menerapkan kebenaran refleksi tersebut dalam praktek kehidupan dan tehniknya sehari-hari, manusia akan sampai pada kebenaran obyektif.’8
((D27))Bagi Hegel, segala teori ideologi yang tidak terkait dengan alam pengalaman lahiriah tidak perlu mendapat perhatian serius. Setiap diskusi kebermaknaan ideologi demikian hanya terbatas untuk kepentingan akademis belaka.
Adalah Marx, yang dengan menerapkan filsafat Hegel bereksperimen untuk memberikan norma kehidupan baru bagi manusia yang didasarkan pada logika semata. Hal yang semula dianggap sebagai bahasan sekuler, akhirnya menjadi perhatian masyarakat. Maka lahirlah sebuah agama politis-ekonomis buatan manusia yang didasarkan pada penyangkalan akan Tuhan. ((D28))Cendekiawan Marxis pada dasarnya sependapat dengan sudut pandang para pengikut Hegel dan menolak konsep tentang kebenaran hakiki. Mereka tidak menganggap kebenaran obyektif sebagai suatu hal yang absolut. Kebenaran tersebut selalu relatif terhadap masa dan keadaan sekitarnya.
((D29)) Di antara para pemikir sosialis, Friedrich Engels lah yang menerima konsep kebenaran absolut dan karena itu ia bertentangan dengan Bogdanov. Bagi para filsuf komunis, kebenaran adalah nama dari pengetahuan yang diperoleh melalui telaah obyektif, tergantung pada masa dan keadaan lingkungan tertentu. ((D30))Dalam batas lingkup demikian maka kebenaran adalah pengetahuan dan pengetahuan adalah kebenaran. Karena itu ilmu pengetahuan bisa didefinisikan sebagai kebenaran obyektif yang selalu berubah, selaras dengan perubahan lingkungan yang terus berjalan.
((D31))Tidak dibutuhkan waktu lama bagi filsafat materialistik ini untuk menjadi panutan hidup orang banyak. Marx menjadi rasul utama dan sekaligus juru bicara dari agama tak bertuhan tersebut. Kita perlu memahami lebih lanjut tentang dirinya mengingat betapa besar pengaruh (pandangannya)itu dalam merubah wajah dunia dan bukan semata karena mekanisme Materialisme Dialektiknya.
((D32))Dalam spektrum konflik pemikiran dan agama manusia, agama berdiri di satu sisi yang paling ekstrim yang menekankan peran wahyu sebagai asas penuntun yang paling valid bagi manusia. Adapun Marxisme berada di sisi ekstrim lainnya dengan pandangan yang secara total menolak adanya kebenaran yang diwahyukan. ((D34))Di antara keduanya terdapat berbagai macam filsafat - yang satu dekat ke sini dan yang lainnya dekat ke sana. Namun penyangkalan terhadap apa yang berkaitan dengan agama secara total dan absolut hanya terdapat pada filsafat Marxis dalam bentuk Materialisme Dialektik dan sosialisme ilmiah.
((D35))Di antara para filsuf Eropa, Marx kelihatannya termasuk orang yang paling berfikiran jernih dan idealistis - meski tidak pernah mau mengakui idealismenya itu - serta sangat cerdik dalam strategi filsafatnya menghadapi konsep tentang Tuhan dan agama. Baginya baik Tuhan mau pun agama tidak mempunyai arti sama sekali, sebagaimana halnya ilham tidak punya tempat dalam filsafatnya. Ia tidak sependapat dengan idealisme Hegel yang mengawali realitas obyektif atau pun berperan dalam pewujudannya.
((D36))Dalam filsafat Hegel dikatakan bahwa ide lahir dahulu, sedangkan perubahan material baru kemudian muncul di bawah pengaruhnya. Dengan demikian, ketika ide telah tumbuh sampai pada suatu tingkat kematangan dan menjadi bernas dengan ide-ide baru lainnya, pada gilirannya akan memasuki lagi proses uji verifikasi. Demikianlah ide bergerak terus, gelombang demi gelombang, sambil mentransfer realitas subyektif menjadi kebenaran obyektif yang kasat mata.
Marx cukup cerdik untuk mencurigai adanya perangkap fikiran. Bila ide subyektif berubah menjadi realitas obyektif sebagaimana dikatakan filsafat Hegel, maka ide subyektif tentunya mendahului realitas obyektif. Hal ini akan menimbulkan rantai sebab akibat yang bisa berbahaya. Ide dengan demikian memerlukan adanya kesadaran awal yang tidak mungkin berwujud tanpa adanya kehidupan. Jika begitu maka hal tersebut akan membawa fikiran kepada Tuhan sebagai wujud Maha Penggerak yang bisa menghasilkan perubahan obyektif dengan instrumen ide. Mungkin karena hal inilah maka Marx tidak secara terbuka menganut idealisme Hegel. Namun dengan pelintiran halus dalam urutan sebab dan akibat, ia telah merubah filsafat Hegel menjadi miliknya. Ia menempatkan materi (dzat) sebelum ide. ((D37))Pergumulan dialektik dengan demikian tidak dimulai dengan ide, tetapi dengan dzat yang tunduk pada hukum alam. Dengan demikian maka Materialisme Dialektik tiba pada konklusi yang logis dengan atau tanpa bantuan ide. Dzat semata akan membentuk jalannya sendiri dengan cara mempengaruhi hidup dan membentuk kodratnya. ((D38))Filsafat ini mengawali konsep non-eksistensi wujud Tuhan, yang harus disingkirkan dari posisi pengendalian urusan manusia. Hanya manusialah yang berhak mengatur dirinya sendiri secara penuh tanggungjawab.
Melalui cara itu maka ketergantungan Marx pada akal budi dan logika menjadi sama totalnya dengan penolakannya terhadap Tuhan dan wahyu Ilahi. Persoalan Idealisme absolut versus Materialisme Dialektik hanya soal urutan saja. Masalah yang perlu ditentukan hanyalah tentang apa yang mendahului siapa.
((D39))Hal ini membawa kita ke pertanyaan penting berikutnya yang memungkinkan kita lebih memahami maksud tersembunyi Marx. Bagaimana ia bisa membayangkan kinerja mulus tanpa cacat dari suatu sistem tanpa adanya suatu moralitas? Ia orang yang terlalu pintar untuk mengabaikan masalah itu, tetapi ia juga cukup cerdik untuk melihat adanya keterkaitan hubungan di antara moralitas dengan Tuhan. ((D40)) Manusia pada dasarnya bukanlah hewan yang bermoral. Malah sebenarnya manusia merupakan hewan yang paling korup di kolong langit. Semua usaha untuk menjadikan manusia bermoral bersumber dari keimanan kepada Tuhan. tetapi Marx tahu betul bahwa keimanan kepada Tuhan adalah hal yang tidak sejalan dengan filsafatnya. ((D41))Segala hal yang menjurus atau mungkin menjurus kepada Tuhan merupakan tabu atau pantangan. Ia harus memilih antara dua pilihan: apakah mengembangkan moralitas di dalam Komunisme untuk memelihara kepentingannya dengan risiko membawa dunia Komunis kembali kepada Tuhan, atau mengabaikan risiko tersebut dan menerima saja kemungkinan buruk yang bisa terjadi atas sistem itu sendiri. ((D42))Mungkin ia beranggapan bahwa teror penghukuman (sistem pemberlakuan hukum yang kejam kepada rakyat-peny.) akan cukup mengimbangi ketiadaan pendidikan moral di kalangan para penguasa pemerintahan Komunis. Ternyata dalam bidang ini ia keliru sama sekali. Manusia adalah hewan yang korup, bahkan tidak bisa diluruskan dan tetap korup walau ada sistem ganjaran tak berampun dari suatu regim totaliter sekalipun.
((D45)) Filsafat Marxisme yang berdasar Materialisme Dialektik tidak menyisakan ruang bagi Tuhan. Atas dasar alasan itulah maka Vladimir Ilich Lenin melancarkan kampanye garang terhadap mereka yang berani mengusulkan perbaikan moralitas, walaupun dalam kerangka fikir Komunisme itu sendiri.
((D46))Dengan demikian dalam Marxisme tidak ada ruang untuk wahyu samawi, tidak juga norma-norma etika yang didasarkan pada wahyu. Marx rupanya menganggap perlu membuang moralitas dari kehidupan manusia karena potensi tersembunyi yang dimilikinya yang akan membawa manusia kepada Tuhan.
((D47))Kemungkinan lain ia menolak moralitas adalah perasaan takut bahwa moralitas akan menghambat kelancaran pelaksanaan revolusi proletar. Kaum proletar sepanjang sejarah terikat pada kaum borjuis atas nama kewajiban moral. Ikatan demikian itu harus dihancurkan dan massa harus dibebaskan melakukan apa saja untuk memberontak terhadap penguasa mereka yang bengis. ((D48))Jangan sampai ada kewajiban moral menghambat jalan mereka. Mereka harus bebas untuk membunuh, menjagal, merampok, membakar dan menghancur-leburkan tatanan borjuis berikut dominasi ekonomi dan politiknya. Karena itulah ia memandang moralitas sebagai musuh utama dari sistemnya yang tidak mengenal Tuhan.
((D49))Terlepas dari jalan fikiran Marx yang demikian mantap, ia tetap saja masih penuh ketidak-konsistenan. Ia telah meletakkan dasar proyeksi idenya sedemikian kokoh dan teguh di atas logika dan analisis, yang mestinya tidak lagi mengandung kontradiksi di alamnya. Tetapi nyatanya inkonsistensi meruyak dalam konsep Marxisme. Salah satu contoh inkonsistensi demikian adalah adanya penolakan total terhadap moralitas di satu sisi dan pengerahan gerakan revolusioner yang sepenuhnya didasarkan atas fenomena moral berupa simpati di sisi lainnya.
((D50))Tidak hanya itu. Simpati atas penderitaan mereka yang papa jika dilakukan melampaui batas keadilan dan kejujuran hingga memunculkan kekejaman kepada yang lain, menjadikan kontradiksi itu bertambah mencolok. Jika tidak ada keadilan dalam urusan manusia dan kita memulai suatu gerakan atas nama keadilan untuk memperbaiki keadaan tersebut, mestinya kita boleh merusak prinsip yang dengannya gerakan itu bermula. Itu sama halnya dengan memotong dahan dimana anda sedang berpijak.
Disamping itu, suatu sistem yang tidak menghiraukan pertimbangan perasaan dan moral, tentunya bertentangan dengan dirinya sendiri jika sistem itu lalu mengharapkan komitmen kesetiaan orang kepada suatu sistem yang pada esensinya bersifat amoral. Begitu juga dengan kontradiksi Marx mengenai skema yang telah dirancang secara seksama untuk menolong kaum proletar menggulingkan dominasi despotik dari kaum borjuis. Sebutlah namanya sosialisme ilmiah atau Materialisme Dialektik, jika filsafat ini benar adanya maka mestinya tidak dibutuhkan bantuan manusia luar guna mengatur dan membimbing langkah-langkahnya.
((D51))Masalah penting lainnya yang perlu diamati adalah kenyataan bahwa Materialisme Dialektik Marx jelas dipengaruhi oleh karya monumental Charles Darwin, The Origin of Species. Telaah yang lebih mendalam menunjukkan dengan nyata bahwa Materialisme Dialektik adalah nama lain bagi teori ‘Perjuangan untuk Bertahan Hidup’ (Survival of the fittest) miliki Darwin yang diterapkan pada kehidupan manusia.
((D52))Masalah ketersediaan makanan dan sarana kehidupan selalu mendominasi kehidupan Homo Sapiens sejak mereka menguasai spesies hewan sebelum adanya manusia. Prinsip yang sama dari survival of the fittest (kelangsungan hidup bagi yang paling tepat beradaptasi) tetap berjalan sebagaimana sebelumnya. Tidak ada pilihan atau opsi bagi kehidupan untuk mencari alternatif lain selain dari yang telah ditetapkan oleh kaidah ini. ((D53))Pandangan ini bersifat ilmiah. Jika filsafat Marxisme tidak memiliki hasil akhir dan keseimbangan yang sama, maka doktrinnya tidak dapat disebut ilmiah. Materialisme Dialektik akan kehilangan signifikasinya sebagai suatu fenomena alamiah.
T
eliti((E1)) sekarang betapa berbedanya evolusi Darwin dengan Materialisme Dialektik. Prinsip evolusi Darwin mencakup keseluruhan alam dalam pembentukan kehidupan dan penentuan alur perjalanannya. Prinsip itu tidak memerlukan kampanye ideologi untuk membantu memperkenal­kannya ataupun memerlukan bantuan eksternal guna membantu kemajuannya. ((E2))Bahkan sebaliknya, prinsip (evolusi Darwin) itu berpotensi menggagalkan dan menghancurkan upaya luar yang akan menghalangi jalannya. Jikapun Darwin tidak pernah dilahirkan dan tidak ada yang pernah mengungkapkan misteri tentang evolusi, realitas evolusi tetap saja tidak akan berubah. Ketiadaan Darwin tidak akan ada pengaruhnya sama sekali pada kenyataan tersebut.
((E3))Hukum alam tidak bergantung pada pemahaman manusia dalam hal implementasinya. Persepsi manusia tidak berarti apa-apa dalam realitas eksistensi hukum tersebut. Apakah manusia bisa memahaminya atau tidak, roda raksasa alam semesta ini akan tetap berputar.
((E4))Betapa berbedanya dengan Materialisme Dialektik! Kalau saja Marx dan Lenin tidak pernah dilahirkan di dunia maka revolusi Komunis di Rusia atau di bagian dunia lainnya tidak akan pernah terjadi. Dalam sejarah Rusia, pada masa itu keadaan negara memang sudah matang untuk terjadinya suatu revolusi, dengan atau tanpa Lenin. Perbedaannya yang dibuat Lenin hanyalah mengendalikan gelombang badai saat revolusi akan meletus, lalu melepaskan dan memenfaatkannya untuk kepentingan Sosialisme Ilmiah. ((E5) Dalam konsep evolusi Darwin, sejarah alam tidak memerlukan adanya sarana lain untuk perwujudannya, juga tidak memerlukan perancang untuk membantu prosesnya.
Jika kita bandingkan filsafat Hegel dengan pandangan Marx, masalah pokok yang mengemuka adalah: ‘Apakah ide mendahului ‘yang ada’ sebelum perubahan obyektif dalam dunia material, ataukah perubahan obyektif itu sendirilah yang telah melahirkan ide-ide seiring pergerakan­nya?’ ((E6)) Jika Marx benar adanya, mestinya ia tidak perlu lagi melakukan kampanye intelektual dan idealistik untuk mewujudkan revolusi Komunis. Segala sesuatu yang bertentangan dengan konklusi ilmiah dengan sendirinya tidak akan pernah terjadi.
Bila Komunisme dianggap sebagai kaidah sebagaimana halnya hukum evolusi, maka ide-ide yang paling kuat pun tidak akan mungkin bisa membendung kemajuan Komunisme meski semua ide itu bergabung. ((E7))Inilah yang menjadi kontradiksi lain dalam pandangan Marx. Jelas ia berupaya mengutamakan Materialisme Dialektik atas Ide, tetapi dalam pelaksanaannya ia bertumpu pada kekuatan ide untuk menjalankannya.
Jika visinya memang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah yang kokoh, maka konklusi logis seharusnya menyatakan visi tersebut sudah cukup untuk menimbulkan peralihan kekuatan ekonomi dan politis dari tangan sekelompok kecil manusia ke tangan rakyat banyak. ((E8))Hanya saja keadaan yang telah melahirkan Marx dan Lenin punya pilihan untuk tidak bergantung kepada mreka berdua. Bagi Marx, terlahir dengan kapasitas otak dan hati yang tepat dan mampu mendapat dukungan dari seorang teman kaya yang cerdas dan berpengaruh seperti Lenin jelas bukan suatu hasil alami dari Materialisme Dialektik.
((E9))Lagi pula kegagalannya untuk melancarkan revolusi demikian di Jerman, padahal di sana menurut filsafatnya merupakan arena yang ideal karena semua faktor revolusi proletar telah tersedia, merupakan bukti yang menunjukkan bahwa Materialisme Dialektik itu sendiri tidak cukup untuk merubah wajah ekonomi dan politik dunia.
((E10))Di sisi lain, keberhasilan Lenin di dalam suatu negeri yang secara komparatif malah kurang industrialis dibanding Jerman, merupakan bukti lain dari pandangan yang menyatakan bahwa revolusi Rusia hanyalah suatu kebetulan dan bukan merupakan konsekwensi langsung dari Marxisme. Adalah suatu nasib buruk bagi sejarah Rusia bahwa Lenin pada saat itu ada di sana saat periode kritis dari reaksi rakyat banyak sedang marak terhadap kekuasaan Tsar yang despotik, kejam dan mementingkan diri sendiri, ditambah lagi frustrasi bangsa itu atas kekalahan mereka di Perang Dunia Pertama, yang telah menciptakan kesempatan yang langsung disambar oleh Lenin.
R
usia pada waktu itu sudah masak untuk revolusi dan sudah siap melakukan revolusi macam apa pun. Kalau bukan revolusi Komunis, revolusi lainnya pun sama memadai. Yang diperlukan hanya seorang pemimpin dengan kaliber Lenin. Adalah suatu kebetulan bahwa Rusia menemukan dalam diri Lenin seorang pemimpin revolusi yang juga menjadi murid sosialisme ilmiah dari Marx. Ia yang menghujat eksploitasi manusia dengan kata-kata yang paling keras, nyatanya malah kemudian tampil sebagai sosok pemeras paling buruk dalam sejarah Rusia. Lenin lah sebenarnya yang menentukan sejarah di Rusia dan bukannya Materialisme Dialektik.
((E11))Disamping berbagai kontradiksi lain, Marx juga bisa disalahkan atas sekurang-kurangnya satu kekhilafan besar - ilmunya tentang sosialisme telah mengabaikan sama sekali faktor fikiran di dalam penelaahannya. Fikiran adalah palungan tempat berdiamnya ide, yang memiliki identitas terpisah dari otak manusia. Otak adalah tempat kediaman material fikiran, namun fikiran yang menempati dan berdiam di tempat itu bukanlah suatu materi. ((E12))Bila otak disepadankan dengan sebuah komputer maka fikiran bisa dianggap sebagai penggerak atau operatornya. Suatu ide yang cemerlang bisa lahir manakala fikiran memanfaatkan otak komputer itu. Jika pun terdapat dua otak material yang seratus persen mirip satu sama lain, jika fikiran yang menggerakannya berbeda maka ide yang dilahirkannya juga akan berbeda.
((E13))Semua kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi dan politik menampilkan bentuknya di bawah pengaruh fikiran. Negara-negara adidaya di dunia memaksakan kekuasaan mereka di atas bangsa-bangsa yang lebih lemah hanya karena adanya akumulasi kekuatan dan keunggulan fikiran yang mereka miliki. Begitu juga keadaan pada kelompok kaum borjuis dimana sumber daya fikiran yang mereka miliki telah menjadikan mereka mempunyai kekuasaan absolut yang amat besar. Akan tetapi doktrin Materialisme Dialektik tidak memperhitungkan faktor yang amat kuat ini.
((E14))Adalah suatu kesalahan perhitungan di pihak Marx yang menganggap bahwa kekayaan yang terakumulasi dari sistem kapitalis merupakan jumlah total dari hasil simpanan eksploitasi buruh oleh kaum kapitalis. Tabungan energi tersebut menurut Marx berasal dari bagian hak kaum buruh tereksploitasi yang tidak dibayarkan serta bunga yang diperoleh dari modal menganggur yang disimpan di bank. ((E15))Dengan demikian disimpulkan bahwa mayoritas kaum proletar telah dirampok oleh sekelompok kecil kaum borjuis. Namun tenaga kerja saja tidak akan mungkin mengakumulasi kekayaan jika tidak dikawinkan dengan kekuatan fikiran yang unggul. Kenyataan ini dengan mudahnya diabaikan oleh Marx. Temuan-temuan ilmiah yang bersifat progresif yang telah merevolusi rasio input-output dari tenaga kerja dibanding produksi pada esensinya adalah produk fikiran.
((E16))Buruh atau tenaga kerja di banyak negara dunia ketiga tetap harus bergulat dan berkeringat, namun hasil output kerja mereka tidak ada artinya dibanding hasil pekerja di negara-negara industri yang telah maju. ((E17))Peralatan yang lebih canggih dan unit produksi mekanis serta teknologi modern jika dikawinkan dengan tenaga kerja ternyata membuahkan perbedaan hasil yang demikian besar. Adalah potensi ungul yang diperoleh dari pemanfaatan fikiranlah yang telah meningkatkan produktivitas. ((E18))Di luar itu maka buruh tetap saja buruh, baik itu di Inggris, Bangladesh, kepulauan Pasifik atau pun di hutan-hutan Afrika, dimana mereka seharusnya menerima penghasilan yang sama [Agus}a. Dalam realitasnya, ada yang menerima upah penghasilan jauh lebih tinggi dibanding koleganya di negara lain. ((E19))Terbukti, fikiranlah yang telah memainkan peran menentukan dalam proses pemberian imbalan yang tidak seimbang tersebut. Perlu juga diingat disini bahwa kekuatan fikiran merupakan faktor alamiah yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan atau pun kejahatan, tergantung pada siapa yang menggunakannya.
((E20))Sebagaimana (faktor) fikiran telah menjadikan tenaga kerja jauh lebih produktif, begitu juga halnya fikiran yang unggul telah menjadikan kapitalisme amat berkuasa. Kekuasaan kapitalisme ini tidak akan mengalirkan secara otomatis kekayaan yang terakumulasi ke tangan segelintir orang. Akumulasi kekayaan di tangan segelintir manusia hanya mungkin terjadi jika kekuasaan fikiran ada di pihak kepada mereka. Jika kekuatan fikiran itu bersifat jahat maka yang muncul adalah kelompok Mafia. Terhadap kelompok Mafia seperti itu keseluruhan kekuatan kaum proletar meski digabungkan pun tidak akan mampu mengimbanginya.
Jumlah kelompok Mafia seperti itu sekali dimulai, akan terus menerus menggandakan diri meluaskan dominasi mereka meliputi semua wilayah kepentingan manusia. Dengan berjalannya waktu, mereka akan menjadi bertambah kuat dan bisa mengendalikan semua lapisan masyarakat, baik yang di atas mau pun di bawah. Dalam bidang keuangan, perdagangan, politik, dunia usaha, industri pariwisata yang berkembang pesat, kesehatan, perawatan medis, bidang komputer dan elektronika dan di mana-mana, kelompok Mafia ini terus saja menebarkan bayang-bayang kelam yang bertambah gelap.
Karena itu bisa disimpulkan bahwa kekuatan fikiran itulah, baik atau pun buruk, yang pada akhirnya menguasai dunia material. Mekanisme Materialisme Dialektik tidak mempunyai peran dominan dalam menentukan takdir manusia. Sayangnya fikiran yang kemudian muncul untuk menguasai dunia nyatanya bersifat jahat - yang merupakan konsekwensi dari penolakan Tuhan.
Bukan ciri dari Marxisme saja yang telah menafikan peran akhlak atau moralitas dalam kehidupan manusia. Apa yang dilakukan kaum Komunis secara terbuka, malah dilakukan oleh para kapitalis dengan kemunafikan yang piawai. Politik, perdagangan dan perekonomian mereka yang tidak kurang kehampaan moralitasnya telah mensejajarkan kedudukan mereka dalam kejahatan ini dengan kolega mereka di bumu seberang. Kesempatan seorang proletar di negara Komunis untuk angkat bicara menentang penindas mereka sama tidak berartinya dengan rakyat banyak di dunia kapitalis.
Kelompok Mafia yang diciptakan oleh kekuatan fikiran yang jahat dalam sistem kapitalisme tidak kalah mengerikannya dengan yang bergerak di dunia Komunis ketika kaum papa yang tak berdaya memotong jalan kelas penguasa. Faktor inilah yang harus menjadi konsentrasi telaah kita sekarang. Mengapa kelompok papa dalam hirarki Komunis tiba-tiba melupakan semua kenestapaan mereka di masa lalu dan mulai mencoba mengendalikan nasib rakyat dengan hati yang membatu dan cengkeraman tangan besi? Akhlak apakah yang mengatur mereka? Suara hati macam apa yang akan menyadarkan mereka? Jika moralitas tidak ada, dengan sendirinya tidak akan ada suara hati nurani. Adalah mekanisme tanpa perasaan dalam suatu sistem yang kejam inilah yang pada akhirnya menimbulkan kegagalan total Komunisme.
Telaah mendalam dan teliti dari semua rejim absolut akan menghasilkan adanya paradoks inheren yang aneh. Terlepas dari apakah rejim itu dibangun berdasar filsafat totaliter dari Komunisme atau Fasisme, atau pun muncul sebagai ekspresi kediktatoran seorang kapitalis yang tiran. Mereka semua memiliki kemiripan yang sama yaitu tidak akan membiarkan diri mereka memiliki akhlak, karena tanpa penindasan kejam mereka tidak akan selamat, sedangkan moralitas tidak mungkin dapat berdampingan dengan kekejaman. Dengan demikian mereka tumbuh subur dari ketiadaan moralitas dan ketiadaan moralitas itu sendirilah yang mengakibatkan kejatuhan mereka dengan telak.
Kezaliman saja tidak cukup untuk melindungi rejim totaliter atau despotik. Kelicikan, siasat jahat, fitnah dan konspirasi juga sama pentingnya dengan kezaliman itu sendiri. Agar dapat tetap bertahan, akal fikiran yang busuk bersekutu dengan hati yang kejam. Perkawinan kotor kedua hal itulah yang telah melahirkan rejim diktator. Semuanya itu membantu menyelamatkan mereka untuk kurun waktu tertentu, tetapi pada akhirnya akan meninggalkan mereka. Faktor-faktor konspirasi dan kelangkaan akhlak itu jugalah yang kemudian menjadi penyebab kejatuhan mereka.
Sebenarnya tidak ada kemaslahatan atau kemudharatan yang terjadi dalam urusan manusia yang merupakan akibat bawaan dari suatu sistem. Dua faktor utama yang membentuk takdir manusia adalah faktor fikiran dan faktor moralitas. Kekuatan atau kelemahannya, kebaikan atau kejahatannya, akan menentukan nasib dari perencanaan buatan manusia. Karena itu ternyata Marx telah melakukan kesalahan dalam kedua hal tersebut. Cobalah hilangkan faktor fikiran dan moralitas dari sosialisme ilmiah, maka yang tersisa bukan lagi sosialisme atau pun pengetahuan ilmiah. Betapa pun kuatnya kaum proletar berkembang, tidak akan dapat menandingimungkin bisa menghadapi kekuatan fikiran jahat yang bersatu.
Alangkah malangnya suatu zaman ketika kekuatan jahat berkolusi dengan ego untuk menguasai dunia. Karena itu tidak ada perbedaan berarti di antara dunia yang dikuasai oleh mekanisme amoral dari sistem materialisme atau pun oleh Mafia berfikiran jahat yang amoral dari sistem kapitalisme [TUNDA]. Namun sebenarnya masih ada perbedaan yang cukup besar yang justru mengungkapkan kelemahan dan cacat bawaan dari sistem Marxisme. Dalam sistem kapitalisme masih ada secercah [measure] kemerdekaan yang dinikmati setiap individu dalam masyarakat. Kemerdekaan inilah yang telah mengangkat derajat masyarakat secara keseluruhan. Adapun dalam Komunisme tidak ada kemerdekaan demikian. Kekalaman depresi yang berkembang terus menrus tumbuh dan menembus setiap lapisan masyarakat Komunis. Hal ini menekan keseluruhan potensi mereka kecuali di bidang-bidang yang memang sengaja dikembangkan oleh negara.
D
ilema lain yang dihadapi Marxisme adalah karena akhlak atau moralitas tidak mungkin didefinisikan dalam sebutan-sebutan partisan yang menggugah semangat.[TUNDA]. Masyarakat yang selama ini dididik dan dilatih untuk menolak semua kewajiban moral terhadap yang lainnya, kecil kemungkinannya untuk dapat memenuhinya sebagai kewajiban terhadap dirinya sendiri. Sudah menjadi pola umum perilaku manusia bahwa begitu mereka sudah dirasuki immoralitas, mereka akan tetap bersifat immoral. Hal yang sama juga berlaku pada sistem komando Komunis. Immoralitas nyatanya telah memperkuat genggaman mereka yang korup atas sistem yang mereka operasikan. Semakin bertambah busuk mereka, akan semakin bertambah kejam dan tanpa perasaan perkembangan mereka dalam mengekalkan kekuasaan.
Moralitas dan immoralitas tidak bisa disalurkan secara eksklusif ke suatu arah tertentu. Tidak mungkin bagi hirarki Komunis untuk memperlakukan dunia Komunis secara berakhlak meski mereka berkehendak demikian, sedangkan mereka sudah dilatih untuk memperlakukan dunia dan kepentingan non-Komunis tanpa adanya kewajiban moral sama sekali. Faktor tunggal ini saja sudah cukup kuat untuk dapat menumbangkan kediktatoran Komunis dalam jangka panjang.
Peribahasa populer yang menyatakan: ‘Kediktatoran itu korup dan kediktatoran absolut menjadikan korup mutlak’ tepat sekali dikenakan pada pemerintahan Komunis. Suatu immoralitas tidak mungkin bertahan tanpa ditopang kekejaman, penindasan dan pengabaian keadilan secara semena-mena. Sebagaimana kebencian akan melahirkan kebencian lain, begitu juga immoralitas akan menumbuhkan immoralitas. Keadaan pengabaian nilai-nilai moral yang berkelanjutan pada hirarki tertinggi Komunis sudah pasti akan membentuk kediktatoran immoral yang absolut. Kediktatoran immoral yang absolut tersebut tidak mungkin dibatasi hanya pada lingkaran kecil terpilih dari pemerintahan mereka. Demi keselamatan kelompok, adalah suatu hal yang esensial bahwa pembusukan juga berlangsung di semua tingkat hirarki pengambilan keputusan yang berhampiran. Karena itu area kebotakan immoralitas akan bertambah luas, menyebar ke seluruh tingkatan.
Adapun masalah kewenangan absolut dari Nabi-nabi Tuhan amat berbeda dari kewenangan duniawi. Kewenangan Nabi dipagari oleh norma-norma akhlak agama yang tegas, yang bahkan tidak bisa dilanggar oleh Nabi itu sendiri karena hal itu hanya akan meruntuhkan kewenangannya. Perlu juga dicatat bahwa norma-norma akhlak berupa wahyu Ilahi selalu bersifat konsisten dan memiliki fitrat menjadikan para penganutnya konsisten dalam perilaku mereka. Karena itu hanya kebenaran yang diwahyukan saja yang mungkin memiliki daya tawar potensial guna mengobati manusia dari penyakit intrinsiknya. Tidak ada norma perilaku buatan manusia yang didasarkan pada akal budi manusia semata yang akan dapat menghasilkan laku mukjizat demikian, walaupun (norma buatan) didorong tekanan aniaya tanpa belas kasihan.
Perbedaan pokok di antara diktator sekuler dengan kewenangan absolut seorang Nabi ialah, diktator sekuler sepenuhnya terbebas dari kewajiban mematuhi norma legislatif, adapun para nabi sepenuh­nya diatur oleh Kitab Suci dari kaidah-kaidah akhlak yang secara simultan dan merata diterapkan kepada seluruh penganutnya. Perbedaan inilah yang memisahkan peran di antara keduanya.
Rejim Komunis yang kemudian mencapai kekuasaan, tidak akan mungkin digulingkan oleh revolusi kaum proletar. Kekuasaan yang dipegang hirarki atas bersifat total dan tanpa ampun. Istilah belas kasihan atau akhlak tidak mempunyai tempat dalam kamus Marxisme. Stalin merupakan teladan sempurna dari norma perilaku amoral Marxisme. Pembunuhan massal kaum proletar di altar Komunisme saat rejim diktator Stalin, bisa dikatakan sebagai kinerja yang dibanggakan hanya dari sudut pandang filsafat Komunis.
Sayang sekali kejeniusan Marx tidak mampu mengidentifikasi kelemahan inheren dalam materialisme dialektiknya. Jikapun tangan Komunisme lebih perkasa dibanding badai gurun, tetap saja ia tidak akan mampu menyama-meratakan tinggi rendah derajat manunsia dalam masyarakat.
Setiap laut yang bergelora karena badai, suatu waktu akan kembali tenang setelah unsur-unsur alam yang bergejolak menyelesaikan siklusnya dan setelah itu permukaan laut akan tenang kembali tanpa riak berarti. Begitu juga padang pasir rata tak berbukit menimbulkan ilusi kedamaian dan ketenangan yang sempurna. Konsep stabilitas dan kedamaian dalam masyarakat manusia menurut Marxisme sebenarnya lebih dekat dengan skenario yang dikemukakan ini. Hanya saja kaum Marxis tidak menyadari kalau pemandangan yang tenang di alam sebenarnya juga merupakan gambaran kematian. Dimana terjadi pemerataan permukaan yang mutlak maka tidak ada lagi saling mempengaruhi di antara kekuatan-kekuatan alam. Namun kaum Marxis melupakan kenyataan bahwa permukaan laut yang amat tenang atau gurun yang diam membisu adalah tidak sama dengan kemerdekaan hasrat manusia untuk menipu, memalsu atau menciptakan tinggi rendah artifisial jika sudah tidak ada lagi perbedaan. Padahal tidak mungkin bagi manusia untuk membuat suatu sistem yang bisa menggusur elemen tinggi rendah dalam masyarakat manusia. Titik-titik air mungkin bisa mirip, dan partikel pasir bisa saja terlihat sama satu dengan lain, tetapi manusia tidak demikian adanya.
Dalam filsafat Marxisme, adalah partikel manusia yang menjadikan utopia kedamaian Komunis. Kalau setiap warga dari negara Komunis diberikan kesempatan ekonomis yang sama, setiap orang diberi roti, daging dan mentega sejumlah yang sama, jika setiap keinginan manusia bisa tersedia sejalan dengan kebutuhannya, maka tidak akan ada lagi kejahatan yang muncul sebagai akibat dari keserakahan. Dalam masyarakat yang secara ekonomis disama-ratakan demikian mestinya tidak ada lagi orang yang perlu merampok, mencuri, menipu atau berusaha mencari kekayaan karena tidak ada yang akan bisa dibeli selain dari yang telah disediakan oleh negara. Masyarakat seperti itu pada akhirnya akan bersih dari segala kejahatan akibat keserakahan, yang menjadi faktor kausatif utama timbulnya kejahatan.
Pada keadaan dimana semua kesempatan adalah sama, kebutuhan dan pemenuhannya juga terjamin, sepanjang setiap warga masyarakat urunan tenaga kerjanya sepadan dengan kapasitasnya, saat itulah impian Komunisme tentang stabilitas sempurna akan menjadi kenyataan. Masyarakat demikian tidak lagi memerlukan adanya negara untuk mengatur mereka. Inilah yang merupakan utopia dari materialisme Marx.
Trend terakhir dari perkembangan politik dan ekonomi di dunia nyatanya telah menghancurkan dongeng materialisme tersebut. Tidak diperlukan adanya takdir luar untuk memusnahkan taman Eden kaum Marxis. Penolakan asas moralitas saja sudah cukup menjamin kehancurannya.
Disamping itu juga terdapat cacat inheren dalam filsafat regimentasi Marx. Terlepas dari kenyataan bahwa filsafat itu tidak mengandung norma-norma akhlak untuk membimbing para anggotanya agar melaksanakan tugas-tugas mereka secara jujur, ditambah lagi ajaran tentang penyangkalan Tuhan serta penekanan bahwa tidak ada kehidupan setelah mati untuk mempertanggung-jawabkan perilaku manusia di dunia. Semua itu telah memberikan keberanian di hati para fungsionaris partai untuk mementingkan diri sendiri dan tidak lagi mengenal disiplin. Sifat mementingkan diri sendiri telah marak sedemikian rupa tanpa ada batasannya sama sekali, semata-mata hanya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadi. Setiap orang merasa bebas melakukan apa saja untuk memuaskan keserakahannya. Yang korup lalu mengelompok untuk melindungi kepentingan kelompoknya. Mereka selalu bisa mencari celah untuk luput dari perhatian dan konsekwensi penghukuman dengan cara merangkul yang lainnya yang memiliki kesamaan. Mungkin kecenderungan fitrat perilaku mementingkan diri sendiri inilah yang telah mendorong Marx menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan yang tidak bermoral. Hanya saja ia tidak menyadari kalau hal yang sama itu juga yang kemudian telah membawa kehancuran bagi kerajaan Komunis.
Penolakan moralitas bukan satu-satunya rintangan yang menjadi penghalang terwujudnya impian Marx bagi sebuah masyarakat tanpa negara. Akses setara pada semua kesempatan saja tidak cukup untuk mencapai sasaran berupa masyarakat tanpa negara, tidak juga keserakahan yang dibatasi pada pemuasan kebutuhan ekonomis semata. Dimana letak jawaban atas keserakahan untuk menguasai sumber kekuasaan yang selalu menonjol dalam setiap sistem diktatorial? Lagi pula dimana ada jaminan ilmiah di dalam sistem untuk memblokir alur kecemburuan, kebencian dan balas dendam yang terkait dengan pencarian kekuasaan? Filsafat ilmiah Marx sama sekali tidak menyentuh masalah ini.
Guna mencapai utopia, setiap orang harus melewati aral rintangan dari sebuah masyarakat yang tidak mengenal akhlak atau pun belas kasihan. Jauh sebelum tercapai pemerataan masyarakat di bidang ekonomi dan politis, immoralitas manusia sudah akan menghancurkan seluruh kerangka khayalan Komunisme mengenai hidup.
Dari sudut pandang ini, jika kita teliti ulang problem yang mengarah pada kehancuran kerajaan Komunis, jelas tidak bisa diabaikan kondisi ketiadaan akhlak para fungsionaris partai sebagai penyebab utama. Korupsi di dunia Komunislah yang harus disalahkan atas kehancuran pemerintahan Komunis di Uni Soviet. Dengan demikian dapat dikatakan kalau kegagalan sistem sudah tertera di dalam piagam Komunisme di saat ketika moralitas dikeluarkan daripadanya.
Di satu sisi terdapat kebenaran yang diwahyukan dan di sisi lain ada yang disebut sebagai kebenaran yang didapat sepenuhnya melalui nalar manusia. Kelebihan dari kedua filsafat ini tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Pernyataan Ilahi selalu menyatakan bahwa hukum dan keadilan dalam masalah kehidupan manusia tidak akan bisa ditegakkan jika tidak dilakukan secara mutlak. Korupsi akhlak dan norma-norma etika yang didasarkan pada keadilan mutlak tidak mungkin jalan bergandengan. Kebenaran hakiki merupakan esensi dari semua moralitas, dan moralitas absolut adalah esensi dari segala kebenaran. Jadi tanpa perbaikan nilai-nilai absolut dari manusia, tidak ada impian tentang surga di bumi bisa menjadi kenyataan. Hal ini sudah menjadi pernyataan universal sepanjang masa.
Marx bangkit untuk melawan filsafat sepanjang masa yang didasarkan kepada wahyu ini. Ia menolaknya mentah-mentah dan mengeluarkan pernyataan bahwa manusia tidak membutuhkan bimbingan Ilahi, disamping juga tidak ada yang namanya sosok Tuhan. Adalah takdir dari manusia sendiri untuk membuka jalannya sendiri menuju pencapaian impian membentuk surga di dunia. Dengan demikian manusia sendiri yang membuka jalan berdasarkan inteleknya sendiri tanpa adanya bimbingan Ilahi sama sekali.
Memandang visi Marxis tentang masyarakat tanpa negara, sekali lagi terlihat mencuat cacat mendasar yang tersirat. Diasumsikan secara serampangan bahwa jika masyarakat telah disama-ratakan secara ekonomis maka akar utama kejahatan akan hancur dengan sendirinya sehingga tidak diperlukan lagi adanya kekuasaan negara untuk melawan kejahatan. Namun sifat serakah manusia nyatanya tidak terbatas pada area aktivitas ekonomi melulu. Misalnya pun semua tujuan Marxisme telah tercapai, masih banyak lagi yang berkaitan dengan keserakahan manusia yang belum terlihat oleh mata kaum Marxis.
Kalbu manusia menghasilkan demikian banyak nafsu dan ambisi sehingga solusi apa pun yang ditawarkan jika tidak memperhitungkan hal ini secara keseluruhan, tidak akan pernah cukup. Ketidak-setaraan di antara manusia tidak hanya bersifat ekonomis semata. Bisa saja ditimbulkan oleh keterampilan fisikal atau mental dan fitrat lainnya dari hati dan otak. Nafsunya untuk berkuasa, menaklukkan, memerintah, mendominasi, mencintai dan dicintai, baru sekelumit saja dari segala hal yang bisa menjadi tanah subur buat benih keserakahan berakar.
Kecantikan adalah salah satu yang tidak bisa dibagi rata di antara semua pria dan wanita, tidak juga kesehatan dan kebugaran jasmani sama pada semua orang. Indera pendengaran dan penglihatan, indera rasa dan sentuhan, kesukaan dan kebencian, kegandrungan dan rasa jijik, kemampuan artistik, selera musik dan seni, kesenangan di bidang sastra, semua itu baru contoh sederhana dari sekian banyak variasi yang telah dihasilkan oleh alam sepanjang sejarah evolusinya. Tidak ada dari pendukung sosialisme ilmiah yang bisa mengingkarinya. Semua itu harus diterima sebagai suatu fait accompli. Yang menjadi masalah adalah keanekaan itulah yang justru sebenarnya mendasari semua bentuk kebusukan dalam masyarakat manusia. Semua penyakit sosial bersumber padanya. Satu-satunya solusi yang valid untuk mendisiplin­kan kecenderungan demikian adalah norma-norma akhlak yang diwahyukan Ilahi, yang dengan sendirinya juga tidak akan berfungsi tanpa keimanan kepada Tuhan. Singkirkan Tuhan dan kebenaran yang diwahyukan dari kehidupan manusia, maka tidak akan ada lagi kedamaian yang tersisa.
Komparisi mendalam tentang filsafat Marxisme yang tidak bertuhan dengan keimanan kepada kebenaran yang diwahyukan bisa membantu memperjelas topik bahasan. Di satu sisi ada akal budi manusia sendiri tanpa bimbingan Ilahi yang mencoba mengatasi semua permasalahan umat manusia dengan kekuatan sendiri. Di sisi lain terdapat kebenaran Ilahi yang diwahyukan yang menekankan peran akhlak mutlak untuk mengatasi immoralitas dalam diri manusia.
Reviu kritis atas pandangan yang pertama hanya akan membawa kita kepada konklusi logis bahwa akal budi saja tidak cukup untuk membimbing manusia kepada kedamaian dan ketenangan. Telaah atas sejarah keagamaan mengungkapkan bahwa kedamaian dan ketenangan hanya bisa dicapai ketika para Rasul Ilahi melancarkan perang terhadap immoralitas dalam diri manusia. Semua itu harus dicapai melalui kerja keras, keringat dan darah untuk menciptakan pulau-pulau yang relatif damai di tengah samudra kejahatan dan dosa yang menggelora. Suatu ketika mereka tersapu lagi oleh gelombang laut godaan. Namun meski demikian, nyatanya tingkat moralitas manusia dari masa ke masa telah membaik satu atau dua tingkat. Jika tidak demikian keadaannya dan tidak ada gerakan yang bersemangat Ilahi untuk memperbaiki akhlak manusia, maka masyarakat manusia akan seratus kali lebih buruk dari keadaannya sekarang. Karena itu tidak ada keraguan lagi akan perlunya wahyu dan kebenaran yang diwahyukan.




Referensi

1. Westfall, R. C. (1993) The Life of Isaac Newton, Cambridge University Press, Cambridge, p. 124
2. Westfall, R. C. (1993) The Life of Isaac Newton, Cambridge University Press, Cambridge, p. 122
3. Westfall, R. C. (1993) The Life of Isaac Newton, Cambridge University Press, Cambridge, p. 121
4. Gutman, J. (1963) Philosophy A to Z, Grosset & Dunlap Inc., New York.
5. Kiernan, T. (1966) Who’s Who in the History of Philosophy, Vision Press, New York, p. 54
6. Copleston, F. (1956) Contemporary Philosophy, Studies of Logical Positivism dan Existentialism, Burns, Oates and Washbourne Ltd. London, pp 154-155
7. Sartre, J. (1975) Existentialism and Humanism, Eyre Methuen Ltd., London, p. 34
8. Lenin, V. I. (1963) Collected Works, vol. 38, Philosophical Notebooks, Foreign Languages Publishing House, Moscow, p.201
1Al-Ghazali atau lengkapnya Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad At-Tusi Al-Ghazali (1058-1111 M), theolog dan mistik Muslim dengan bukunya Ihya Ulumuddin yang menjadikan Sufisme diakui sebagai bagian dari Islam ortodoks. (Penterjemah)
2Lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi (865-932 M) ahli kimia dan filsuf Islam yang juga dianggap sebagai tabib akbar di dunia Islam. (Penterjemah)
1Al-Ghazali atau lengkapnya Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad At-Tusi Al-Ghazali (1058-1111 M), theolog dan mistik Muslim dengan bukunya Ihya Ulumuddin yang menjadikan Sufisme diakui sebagai bagian dari Islam ortodoks. (Penterjemah)
2Lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi (865-932 M) ahli kimia dan filsuf Islam yang juga dianggap sebagai tabib akbar di dunia Islam. (Penterjemah)
3Abu Al-Mughith Al-Husain ibn Mansur Al-Hallaj (858 - 922 M), seorang pengarang, guru dan ulama Sufi yang kontroversial. Dipenjara lama sekali (911 - 922) sebelum akhirnya dihukum mati. (Penterjemah)
4Fenomena adalah benda atau keadaan sebagaimana tampak pada pandangan orang. (Penterjemah)
5Noumena adalah benda atau keadaan menurut keadaan sesungguhnya (das Ding an sich). Meski noumena menguasai dunia intelek tetapi Kant menganggap bahwa manusia hanya mampu memahami fenomena dan tidak akan pernah bisa masuk ke dalam noumena kecuali jika dunia noumena ini adalah tempat bermukim kemerdekaan, Tuhan dan keabadian. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar